HILANG SATU TUMBUH JAMUR SERIBU

listen: America – I Need You

Jeee, jamur!

Kmaren nonton The Ring versi Amrik [kalo yang Japanese version gue malah udah nonton semua seri-nya] sama Trainspotting [sorry yeee eke rada-rada telat, gini dah manusia goa], trus Mada Dayou-nya cuma dikasih nonton sekilas berhubung kita teburu-buru cabs dari kontrakkannya bapak ini soalnya gue kudu makan gara-gara pala gue dah cicicuit tuang tuing. Hmmm…hmmm…sebagai pribadi rapuh gue cuma bisa bilang bahwa: FILM-FILM ITU KEREEEN!!! GILAK GILAK GILAK!!! BLAH!

Well, penyakit menbanding-bandingkan gue sedikit kumat waktu nonton The Ring versi Amrik ini. Disana…mereka mempunyai gambar yang lebih jelas, bagus, dan “hijau” [entah kenapa suasana maupun nuansa seakan diperhijau, entah hijau apanya]. Esensi horror itu sendiri kurang terasa. Kalau versi Jepang, lebih ke abu-abu, hitam dan putih, sedikit kaku dan yang jelas…BIKIN PSYCHO ABIS! Ugh yeah! Program ‘cuci otak’-nya lebih kerasa haha.

Kalo Trainspotting…man, that wus the awesome movie I ever see sejak gue nonton trilogi film Perancis yang judulnya itu masing-masing…Black, trus Red, sama Blue [kalo ndak salah], waktu itu nonton di Bentara Budaya sama Vic, dan gue cuma kebagian Black doang.

Hmmm…I’ve done it good eh? Kayak sineas beneran =P

Gi bantuin mbak Cith nih kasih referensi untuk nyelesein deadline BUBU-nya. Beuh…rada telat juga sih, abisan ternyata pak Tee punya beberapa tempat bagus untuk ditilik, kayak perpustakaan ISI sama semacam pusat penelitian budaya Jawa dan masih ada beberapa tempat lagi. Siang tadi sebelum antar aku ke dJav, dia bawain buku asik tuh, tu buku kudu balik ke dia hari Kamis nanti, moga-moga aku masih sempet baca/liat-liat sebelom dikembalikan. Di kamarnya pak Tee ada buku-buku ‘lapuk’ tentang wayang, aaawww!!!

T__________T

Akhir-akhir ini setiap kejadian sama orang-orang disekitar gue selalu ‘menggeret’ gue untuk meresapi kembali kehidupan yang hampir terlupa itu. Kembali ke masa-masa ‘merakyat’ itu, bukan, bukan dalam artian materi atau standar hidup, karena baik materi maupun standar hidupku itu udah masuk kategori kaum miskin kota haha. Lebih ke dalam artian…kembali keluar dari cangkang-ku, kembali menikmati setiap hembusan alur itu, setiap gesekan musiknya, setiap debu jalananya, setiap daripada Yogya ini loh. Gerumbulan buku yang dulu bisa dipakai teman-teman sastra untuk menyembunyikan tubuhku. Berkotak-kotak video Kabuki dan animasi klasik Jepang. Pergi barengan sama lingkungan kost nonton film mahal dengan biaya murah di SEKIP haha. Menyempatkan diri [selalu harus sempat] untuk setiap inci bunyi lesung dari pertunjukkan ketoprak lesung yang dimotori oleh teman-temanku bertukar pikiran. Dangdut-nya UGD, medley parodi-nya Satro Moeni. Hohoho, SIALAN KAAAN, GUE JADI KANGEN KAAAN.

Kangen yang aku tutupi dengan pergi bareng Vic ke Bentara Budaya nonton segala macam pameran atau pemutaran film, kangen yang aku tutupi dengan lagi-lagi pergi bareng Vic ke LIP untuk sekedar nonton pameran kontemporer, mural, atau nonton pertunjukkan theater yang seakan ndak pernah ada habisnya. Kangen yang aku tutupi dengan…yah Vic, kayaknya sama lo terus ya, keliling pake kaki hunting photo kemana-mana. Aku bukan ahli sastra atau pengamat, mungkin hanya penikmat semua itu, kalau ditanya macam-macam aku belum tentu mengerti, bahkan kalau dipaksakan menjawab…bisa jadi berkesan sok tau, dan aku tidak pernah ambil pusing dengan itu. Karena…ya, aku ingin menjadi sok tau untuk diriku sendiri. Persetan dengan dunia-dunia lainnya. Barusan itu tadi…pemikiran yang seharusnya aku lepas, mulai sekarang.

Kyaaaatttzzz!!! Dan tadi pagi bangun tidur, aku liat di screen HP cuma ada tulisan “Unregistered SIM Card” aaaaaabuwahahahaha, akhirnya angus juga tu XL, ya sudah. Lumayan pikiranku jadi agak lega dikit, jadi ada sedikit ruang kosong yang mending dipakai buat mikirin yang lainnya. Ya emang aku kadang butuh sekali benda itu, tapi sama aja kalo tiap 2 atau 3 bulan sekali aku harus kebat-kebit bingung ketika kudu ngisi ulang pulsa, padahal untuk nabung tiap bulan-nya aja aku tidak pernah bisa diberi kesempatan menabung walau untuk hanya 1000 perak. Jangan pikir aku mengada-ada, kalian tidak akan pernah tau, tidak akan pernah, dan bahkan tidak akan pernah mau tau.

Mikirin tempat tinggal juga sih aku nih, ndak mungkin aku begini terus, ndak enak sama semua orang, idupku gratisan mulu kayaknya ya hehehe *getir getir getir*. Aku ingin bisa sendiri, tapi, perumpamaan yang tepat adalah: aku seperti berada di dalam labirin, aku tahu jalan keluar, aku tahu jalan menuju ke luar sana, tapi aku tidak pernah bisa menghadapinya, aku takut menjadi sendiri, aku takut berjalan keluar sendirian, aku takut tembok-tembok tinggi itu, aku takut semua gelap itu, tanaman-tanaman rimbun yang menutup hampir semua permukaan labirin itu, aku takut tidak mampu bertahan jika aku sendiri.

Hhhh, yah bagaimanapun sudah lepas satu persoalanku. Sekarang tinggal sisanya, yang list-nya masih sepanjang tissue toilet Malioboro Mall haha. Ting tang ting tung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s