FEAT: TEE

listen: Bono feat. Daniel Lanois – Falling At Your Feet

prelude prolog dialog

That was tee. I found maself capturing the images at lunch hours from his webcam window. Sumhow…I really really confuse bout wut can I do for you hunny. Nice to know and be with you *hugz* Ngumung-ngumung…itu ndak aku edit loh capturan-nya, emang pas aku print screen dan aku capture dari webcam, itu warna-nya udah gitu, dan aku cuma nge-crop doang, dan ndak ngedit lainnya, hehe, keren ya cahayanya hihihi. Wnet-nya gelap sih, sarang penyamun mowahahahahahah.

Cerita rakyat:

Kemarin aku harus meluberkan semua emosi, amarah dan rasa keterkucilan yang panjang dari lapisan teratas harga diriku. Pergi ke kamar mandi yang syukurlah tempat kerjaku mempunyainya. Lalu menangis, berjongkok dan bersandar pada lapisan kusam dinding kamar mandi yang entah apa saja yang ada disana. Mungkin jalur haram-nya air kencing yang bisa saja mengandung calon-calon penerus bangsa yang terpaksa terbuang karena pemiliknya sudah tidak tahan harus mengeluarkannya. Atau bisa saja menempel disana, jutaan penyakit, kuman biologis, dukungan semesta yang merupakan karma tanpa bayangan dari Sang Pencipta, bisa saja mikroba disana berubah jadi penyebab penyakit ganas di abad yang akan datang, bisa saja. Atau entah berjuta renik dan lumut yang tergelepar-gelepar, menahan geli tertawa mereka karena melihatku tidak dapat menahan tumpahnya kesumpekan diri sendiri.

Bersandar dan berjongkok pada lapisan dinding ber-ubin dingin itu sampai kurasakan kaki-ku kesemutan. Seandainya kegilaan itu muncul, mungkin aku akan mengelap ubin kamar mandi sampai kering dan aku bisa duduk begitu saja dengan se-santai mungkin. Kesemutan, aliran setrum penuh siksa atas nama dunia saraf antah-berantah sana. Dan ketika keran itu menutup, aku memilih untuk berdiri pada keseimbangan alpa dan harus membasuh muka-ku karena aku tidak ingin mereka tahu bahwa aku menangis dan mereka berhasil lagi menyakiti hatiku. Angkuh yang berbicara, mengalahkan segalanya, termasuk tonjokan dan tendangan depresiku pada dinding kamar mandi itu. Aku menantang semesta. Aku menggagahi lumut-lumutnya. Aku berteriak lantang, menyuruhnya lenyap, mengusir semesta pergi. Aku membunuhnya, membunuhnya karena aku pikir akan ada kelahiran baru pada pembunuhan itu. Demi Tuhan…aku hanya ingin tertidur.

FIN.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s