HALAMAN PERTAMA, ALINEA KE-2

listen: Sade – Love Is Stronger Than Pride

Dari kecil, entah dapet dari mana, saya selalu mengusahakan menjawab “Tidak mau” ketika tidak ingin, dan “Mau” ketika saya ingin. Sama seperti saya jawab “Tidak tahu” untuk jawaban yang memang benar-benar saya tidak tahu dan mengerti. Atau sama seperti jawaban “Ma’af aku sedang tidak bisa bantu” ketika situasi benar-benar tidak memungkinkan. Karena, ya, aku tidak pernah mengenal kata basa-basi, basa-basi is suck walaupun aku bisa dibilang masih “sangat Jawa” sekali. Kenapa saya bilang begitu, karena budaya basa-basi itu memang ada di masyarakat ini, dan walaupun saya masih “sangat Jawa” tadi tapi saya sangat membenci budaya yang satu itu. Karena itu juga aku sangat membenci saudara-saudara dan sanak famili dari keluarga ayah walau tidak semua.

Ndak akan pernah ada kata berputar-putar untuk sebuah jawaban yang pasti, dan aku ndak butuh jawaban diluar jalur dari apa yang aku tanyakan. Karena itu, ma’af jika hari ini aku “dengan sengaja” membuat marah seseorang ketika dia dengan amat tanpa sengaja lebih dulu membuat aku tersinggung.

Saya bukan orang pintar dan ya…aku memang bisa belajar, tetapi dari mana saya bisa belajar? Ingin tahu? Kepercayaan diriku dan kesempatan untuk belajar itu datang dan aku dapat dari teman-teman disekitarku ini, yang aku tahu mereka lebih dulu “mengetahui” daripada aku, yang aku tahu mereka telah mempunyai kemampuan yang sudah lebih diatasku dan mereka memang bisa membantuku, yang aku tahu mereka tidak akan melecehkan dan meremehkan aku, yang aku tahu mereka lebih membuatku nyaman untuk bertanya. Jadi untuk apa aku bertanya kepada orang lain kalau orang terdekatku, aku tahu, bisa membantuku. And it’s okay when they say “I can’t help you right now, I have sumthin to do, sorry” better, than when they said “Don’t ask me, I’m not an encyclopedia”. Mohon diketahui, aku tidak akan menanyakan hal-hal yang bisa aku dapatkan dari ensiklopedia, karena aku bisa cari sendiri dari sana.

Saya memang tidak suka basa-basi. Jadi katakan saja yang perlu dikatakan tanpa harus berputar mengejar ekormu sendiri. Aku ndak akan tersinggung karena aku tahu bahwa aku harus terima itu untuk mengoreksi diriku sendiri. Malah mungkin basa-basi itu sendiri bisa membuat aku lebih tersinggung. Aku bukan orang yang “keras” walau mungkin sedikit kolot. Tetapi aku bisa lebih keras kalau memang aku harus memainkannya seperti itu. Kalo tidak ya bilang “Tidak”, just it.

*sigh*

Sebenarnya intinya bukan cuma itu.

Aku cuma jadi merasa “tidak beruntung” aja.

Tidak beruntung dalam banyak hal.

Mungkin aku iri.

Tapi sudahlah.

Yang aku heran hanya satu. Ketika aku sengaja atau tidak sengaja dibuat tersinggung…niat pertama yang terlintas dikepalaku terhadap orang yang membuat aku tersinggung adalah “Aku harus bikin orang ini marah” and I’ll do that, and I always do that. Gue ini “sakit” apa gimana ya? Toh pada akhirnya kalau aku berhasil, aku malah bingung sendiri bagaimana minta ma’afnya. Aku ndak perduli dia pernah membuatku tersinggung pada awalnya atau bagaimana, yang pasti result akhir adalah: aku membuat seseorang feel bad lahir bathin dan itu berarti aku harus minta ma’af. Se-ingatku, pada sahabatku yang satu ini, ini kali kedua aku melakukan hal tersebut padanya.

Sam, aku njuk ngapuro, minta ma’af.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s