POSTER DAN PANJI-PANJI

listen: Acoustic Alchemy – Positive Thingking

Ya, sedikit-sedikit aku juga mulai mengerti bahwa hidup juga merupakan sebuah perlombaan. Bukan dalam hasil akhir bahwa nantinya akan ada yang menang dan akan ada yang kalah tapi pada kenyataan bahwa satu dari dua orang yang berbeda akan bertahan hidup dan yang satu akan terlupakan.

Kita banyak menemukan betapa seseorang sampai melemparkan makian dan cercaan hanya jika dibelakang orang yang dia benci, ada apa dengan memberikan makian persis di depan orang yang kita maksud, bukankah terus terang akan lebih baik? Akankah terus terang membuatmu merugi segalanya? Sama halnya dengan perbuatan yang dengan klisenya kita namakan “menikam dari belakang”. Orang melakukan itu untuk menjadi menang, menjadi yang terdepan, menjadi yang nomor satu, walau dengan cara terjahat sekalipun.

Apakah hidup ini dihargai hanya sebatas berada di depan, menjadi yang nomor satu? Siapa kamu jika kamu hidup sendirian di bumi ini, siapa kamu jika kamu “menjadi yang segalanya” tetapi tidak punya teman satu orang pun, siapa kamu sehingga akan bisa menghakimi keyakinan orang lain ketika orang lain tidak kau perbolehkan untuk melakukannya terhadapmu? Kamu siapa? Orang sukses yang kesepian? Menyedihkan.

Bambu runcing itu dipakai mengibarkan bendera nasional ketika sebelumnya rakyat Indonesia bersatu-padu mengambil kembali negaranya. Berdampingan, pundak yang satu bersetara dengan pundak yang lain, semuanya menanggung jumlah berat yang sama di punggung mereka. Tak perduli pangkat 3 sampai 5 bintang yang tersemat di baju, ketika semua harus mandi lumpur…maka mandi lumpurlah mereka. Saat itu, tidak ada artinya lagi menjadi yang nomor satu, tidak ada artinya lagi menjadi superior, yang ada hanya merdeka…atau tersingkir. Hidup…atau mati.

Saat ini? Bagaimana mungkin orang bisa memperjuangkan haknya kalau belum bersuara saja mereka sudah disingkirkan? Menjadi yang suaranya tidak boleh didengar dan diperdengarkan. Membebat mata-mata dan mulut mereka yang dirasa akan merugikan proyek pengerukan uang negara yang bergunung-gunung demi kepentingan pribadi sementara si maling ayam harus dibakar hidup-hidup?

Perlombaan tiap orang dalam meraih sesuatu itu berbeda, maksud berbeda, hasil yang diinginkan dari harapan pun berbeda. Tapi tidak bisakah kita tetap berdampingan satu sama lain? Seperti seorang muda yang tetap bermain dengan teman-temannya setelah dia menang lomba balap karung di desa dan bahkan teman-temannya yang kalah pun tidak pernah dendam kepadanya. Bisa tidak ya bambu runcing itu tetap mengibarkan bendera negara kita tanpa harus patah dahulu? Pada saatnya nanti, semua akan mengerti bahwa menjadi yang nomor satu sudah tidak akan ada artinya lagi jika kamu sendiri. Tidak ada artinya.

Gue, satu dari mereka yang golput.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s