WHAT’S IN A PEN*S?

listen: Chicago – If You Leave Me Now

Baru hari Senin kemarin aku bilang kalau aku harus kuat. Tapi tetap setan yang menang, dan semuanya runtuh hanya dalam 3 menit penuh kebodohan. Apa sih yang terjadi kemarin? Aku pikir itu sama seperti mimpi-mimpi burukku yang lain tapi ketika aku membalikkan badan semuanya malah terasa begitu ringan, badanku sangat ringan dan rasanya seperti hendak tertidur, tertidur, ingin tertidur untuk menghindari kenyataan bahwa aku dalam keadaan sadar waktu semuanya terbanting ke tanah saat itu juga, hancur.

Every thing that grows

Holds in perfection but a little moment.1

I wasted time, and now doth time waste me.2

Love is not love that alters when it alteration finds.3

Though this be madness, yet there is method in’t.4

Apa karena aku yang bersalah? Apa salahnya insting yang aku bawa sejak aku masih jadi rencana Tuhan dan bahkan belum dilahirkan? Kami para wanita diberikan keistimewaan seratus langkah lebih maju dan peka dalam hal insting. Bodoh sekali mereka yang mengucilkan hal itu dan meremehkannya. Perempuan tidak berpenis, dan jika itu merupakan salah satu kelebihan dan suatu kebanggaan dari para pria, so woman have sumthin too, like -we call it- insting. Salute!

Cowards die many times before their deaths;

The valiant never taste of death but once.5

I say there is no darkness but ignorance.6

Tapi rasanya semakin aneh, setelah semalam…rasanya sudah tidak sakit lagi. Dan tubuhku terangkat lebih tinggi, lebih ringan dari sebelumnya, seperti balon gas yang tidak akan pernah bisa turun, sumthin change, nothin to lose. Tidak ada apa-apa. Sudah tidak apa-apa lagi. Seringan bulu.

All that gliters is not gold.7

Self-love, my liege, is not so vile a sin

As self-neglecting.8

“Aku ingin dia menjadi yang terakhir” kataku pernah, segurat kata-kata ironis yang ternyata hanya angan penuh debu, lapuk, “Dan suatu hari nanti dia akan menjadi bapak dari anak-anakku, anak-anak yang lucu, yang memanggil aku bunda, dan ayah, kepadanya” kataku kemudian, lebih lapuk dan lebih naif dari sebelumnya. Lebih lapuk, dan lebih naif, lebih naif.

All that lives must die,

Passing through nature to eternity.9

The rest is silence.10

Sementara itu aku terus dan terus menganggap semua kecurigaan dan salah paham itu adalah kesintinganku belaka. Membayangkan seorang wanita yang terbaring di atas kasur, dimana aku pun pernah tidur disana. Wanita yang memakai handuk, handuk yang juga pernah aku pakai. Wanita yang menyangkutkan bajunya di gantungan baju itu, persis seperti yang aku lakukan. Wanita yang memakai celana pendek yang pernah aku pakai sewaktu aku disana. Wanita yang mencium bibir yang sama dengan yang aku cium. Wanita yang memeluk pinggang itu ketika bermotor bedua, pinggang yang juga selalu aku peluk.

Rasa sakitnya tidak akan pernah sampai ke ujung jalan. Rasa sakit, yang bahkan, merangkak pun sudah tidak sanggup lagi sampai ke tempatnya. Keterlaluan…

ps: Perempuan, kalian harus punya harga diri. Sade, dalam lagunya bilang, “Love Is Stronger Than Pride”, rasanya itu sudah tidak bisa diberlakukan lagi padaku, ketika di depan sana terbentang dusta, dan di belakang sudah menunggu ego, hanya tinggal satu yang kita punya, pride, dan itu menempati urutan pertama. SELAMAT HARI KARTINI!

crd:

1.(Sonnet XV. 1-2),

2.(Richard II V.v. 49),

3.(Macbeth II.iii. 92),

4.(Hamlet II.ii. 205-206),

5.(Julius Caesar II.ii. 32-33),

6.(Twelfth Night IV.ii. 41-42),

7.(Merchant of Venice II.vii. 65),

8.(Henry V II.iv. 74-75),

9.(Hamlet I.ii. 72-73),

10.(Hamlet V.ii. 367)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s