DEEPLY CAUSE

listen: AHA – You Are the One

Rasa cinta, pasti ada…

Tidur jam 2 pagi dan bangun dengan gelembung besar yang meletup dengan bunyi “PLOP!” lembut dan mengeluarkan lantunan dari bait lirik lagu dangdut itu, lengkap dengan bunyi ‘icik-icik’nya *deep sigh*. Sedikit memicingkan mata dan duduk bengong (masih lengkap dengan selimut nempel) and then I laugh, iya, ketawa, bukan cengengesan atau nyengir, bukan mendengus geli karena nahan ketawa, aku tertawa, lepas. Sekilas jadi terngiang-ngiang lirik High Speed-nya Coldplay, yeah rite, we’ve been living life inside a bubble, quotes checked.

Setelahnya tiba-tiba aku jadi banyak berpikir, banyaaak sekali, gilak ya hari gini otak udah maen nyelonong aja kerjanya. Sambil ngelipet selimut I’m start thingking tentang…betapa berlebihannya aku kemarin, kemarinnya, dan kemarinnya lagi. Berlebihan, in any cases and causes. Sekarang hampir se-Yogya bisa tau kalo aku lagi jatuh cinta kali ya *deep sigh lagi* tapi apa iya aku sedang jatuh cinta? Koreksi, interupsi, dan sangkalan-sangkalan bohong mulai berdatangan, rite on my head with a smoke on top, udah siap mau meledak.

Senang juga sih, sudah lama tidak bingung kalau mau pergi, bingung mikirin mau pakai baju yang mana, bingung mikirin ini rambut mo diapain, bingung milih-milih antara pakai parfume atau tidak. My God, dan mulai mematut diri lama di depan cermin bahkan pernah juga terlontar kata-kata “Ayah, lihat deh, anakmu cakep ndak sekarang?” hahaha. Dan tiba-tiba jadi consider banget sama keadaan fisik, dan terkadang malah jadi dramatis dan hiperbola lalu mulai merajuk-rajuk karena ndak pede *plis deh*, yang merasa gendut banGGet lah, pendek banGGet lah, jelek lah, item lah, mata ndak sinkron lah (autis apa jereng? Sial!).

Aku merasa bodoh, just it. Bukan karena aku berbicara pada bayanganku di cermin, bukan karena kunciran di rambut ala anak teka, bukan karena sibuk memilih baju padahal cuma mau pergi makan siang. I’m just feel stupid, ini sama sekali bukan aku. Ingin rasanya menyelinap diam-diam dari pintu itu, meninggalkan pesta dan duduk di taman luar memandang langit, memikirkan kembali semuanya, kembali ke semua hal ini berawal, menelusuri. Aku bukannya ingin mundur atau mengalah atau bertindak seperti prajurit yang kalah perang atau apa tuh namanya? Menyerah? Oh’hoh, no Sir thankyou, terlalu manis untuk dilupakan, tsaaah…Slank amat sih.

Aku cuma ingin keluar dari sel. Aku tidak ingin mencintai seseorang tapi aku terpenjara dengan ketakutan-ketakutanku sendiri. Aku tidak ingin mencintai seseorang tapi tanganku terikat. Aku ingin bebas, bebas untuk hanya mencintai, bisa mencintai tanpa pamrih tanpa harus ada jawaban ya atau tidak bersedia, tanpa menuntut untuk membangun sebuah status hubungan yang tertulis, tanpa harus sedih ketika dia menyukai perempuan lain. Ayolah, tiba-tiba aku jadi realistis aja sih sejak semalam, tertampar di wajah, malu, even there is still no feedback tapi aku sudah tersiksa sedemikian rupa. How could I, mengeluarkan kata-kata yang ndak jelas maksudnya apa (mungkin, bagi dia)? How could I, dare to call his name just with his initial? How could I feel he loves me too? HOW COME? Kok aku lancang sekali ya? He’s just nice, itu tuntutan moral, just it! Padahal aku sudah jauh-jauh hari memperingatkan diriku tentang hal itu tapi pada akhirnya aku terjebak juga dalam utopia, ampun Gusti.

Aku ingin menjadi ringan dan sederhana dengan perasaan yang telah ada saat ini, aku ingin bisa berkata lagi seperti dulu, berkata…”Ya teman, cintaku sesederhana ilalang yang tumbuh di pinggiran jalan, yang orang berpikir untuk menyentuhnya pun tidak, yang akan tumbuh lagi lagi lagi dan lebih banyak lagi ketika satu atau seratus tercabut, yang akan selalu disana bertahan dalam cuaca apapun, yang mengikuti kemana arah angin meliukkan tubuh-tubuh kurusnya, ilalang yang sederhana”. Kesannya gimana gitu ya jadinya, tadinya judul entry mo kuganti jadi DEEPLY HOPELESS gitu haha tapi ogah ah, wong dibilang hopeless juga ndak kok ^___________^ *tuh buktinya senyum kodok gue masih bisa nongol*

Sampai waktu mandi pun semakin terheran-heran ketika aku menjatuhkan sabun (yang bau karbol itu) tapi kok malah lantai kamar mandi yang gompal ya? Nahloh, sabunnya keras banget, anjier. Ya emang sudah retak sih awalnya (setelah diperhatikan). Dan tiba-tiba aku mendadak jadi ‘rese’ di kamar mandi, mulai bertanya-tanya “Ini air penuh busa nanti diolah ndak ya sebelum dibuang ke laut? Ini shampoo bikinnya gimana ya dulu SMP diajarin. Ini kok bisa gitu, lha itu kok ndak begini, dll dll” sampai kemudian aku menjatuhkan sabun untuk yang kedua kalinya dan mulai menyadari betapa leletnya aku mandi, argh! RUSH HOURS!

Que sera sera. Kayaknya aku memang harus kembali kemana semua ini berawal, menambal and fixing sumthing, keluar dari penjara yang aku ciptakan sendiri. Menolak mentah-mentah intimidasi dan ledekan dalam bentuk apapun, mencoba untuk tidak menjadi malu dengan keadaan pecinta ini, kembali ke diriku sendiri no matter how hard aku akan mencoba, ndak perduli betapa banyak wanita cantik diluar sana yang nantinya akan memilikinya. Aku tau perasaanku sendiri tapi tidak ingin tersiksa karena itu, terlalu sayang kalau aku harus tersiksa karena sesuatu yang seharusnya menyenangkan dan indah. Aku ikhlas apapun hasil akhirnya *capres ya neng* ;p Kalo kata Dido “But if my life is for rent and I don’t learn to buy. Well I deserve nothing more than I get. Cos nothing I have is truly mine”. Clear enuff? Get the stuff? Errr, I mean, get the point?

Sialan nih pasti gara-gara semalem ndak bisa tidur jadi mlototin debat dengan tatapan kosong akhirnya ndak ada yang masuk ilmunya, huhuhu wong capresnya mukanya jadi ketuker sama Jim Carrey (semalem kan ada The Mask). Ya sud lah, “OK” kalo kata mas Thomas mah. Pagi-pagi buta udah brainstorming gini, ndak percuma IQ 153 yak? Well done.

Wah sekarang aku tau gimana perasaannya Lionel Richie pas nyanyi Hello sambil nangis-nangis nelorin lirik kayak:

I long to see the sunlight in your hair

And tell you time and time again how much I care

Sometimes I feel my heart will overflow

Hello, I’ve just got to let you know

‘Cause I wonder where you are

And I wonder what you do

Are you somewhere feeling lonely, or is someone loving you?

Tell me how to win your heart

For I haven’t got a clue

But let me start by saying, I love you…

Note: Put bilang cinta itu baru mulai menyakitkan, kalau kita mengharapkan sesuatu itu harus menjadi milik kita. Iya Put, terkadang kita memang hanya ingin (atau harus?) memberi tanpa harus ada tendensi menerima. Awalnya pun pasti akan terlihat bodoh ya, but thatz love eh?

Cuma…dipojokan sel otakku yang paling gerah dan tanpa ventilasi (jamuran pula) there is still that fcuking damn good dangdut song yang keputer bolak-balik, autoreverse dah pokoknya mah. Good serving on the morning, haha. Aku mau bertapa aja dulu deh (but no HIATUS loh aw).

Pasti ada,

pasti ada,

pasti ada,

pasti ada,

pasti ada!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s