PORCELAIN

listen: Brainstorm – Maybe

Kemarin aku panik (lagi gampang banget nge-drop euy, geleuh), utang ditagih si boss sementara duit tinggal selembar-lembarnya, “One and only, one and only, one and only” mendengung terus sampe sore, darn, pasti kebawa Lily-nya Smashing Pumpkins. Dan karena panik itu jugalah aku jadi bisa nekat doin sumthin unreasonable termasuk nyari si kakak sepulang dari kerja di EH (jam 11 malam!) karena aku merasa harus ngeluarin uneg-uneg dan dia zat adiktif-ku untuk membicarakan masalah-masalahku, badai susulan sepulang dari ibu kota bulan lalu (asal dan dampaknya memang datang dari sana).

Hhh, yang aku cari ndak ada di rumahnya tapi aku tau dimana sekiranya bisa nyari dia, hanya…tempat itu lagi rame dan sepertinya ‘ibuk’ itu juga sedang ada disana, walaupun tuan rumah bilang “Ndak ada” tapi aku tahu itu tidak benar karena kami berbicara in (very) low intonasi di luar pagar dan kata “Ndak ada” itu kok lanjutannya “…uhm, lagi rame” sambil pasang muka prihatin dan khawatir, and I know that was a sign for me dan aku mengerti. So I leave that house, pulang ke kubusku sendiri. I just don’t understand sumthin, really don’t, dan itu sangat melelahkan karena aku tetap tidak mendapatkan jawaban dan penjelasan atas sesuatu yang ‘tidak jelas’ ini. Brain intruder.

Rasanya ingin lewat stasiun Tugu lagi dan teriak “BEGOOO!!! TEMBOK YANG ADA MURALNYA KENAPA DIGUSUR!?” waktu ngelewatin si Malaikat Pencari Bensin itu (lupa judul persisnya). Ya, teriak sekencang-kencangnya persis seperti yang aku lakukan di malam waktu aku sama mpok DJ ajrut-ajrutan naik motor tanpa SIM melewati jalanan menurun setelah stasiun Tugu. Emosi, apalagi begitu melewati jembatan rel kereta api, dimana mural-mural disana tergantikan oleh ‘ceplakan’ brush yang besar-besar (dan menutupi seluruh kaki flyover) dari iklan salah satu produk rokok. WTF!?

Dan semalam aku berpikir, alangkah bahagianya kalau bisa teriak lagi disana, walau mungkin lebih karena emosi pribadi, bukan lagi penuh dengan emosi karena ndak terima mural-mural itu kegusur. Cuma aku urungkan niatku, dan aku mengalah pada egoku sendiri untuk tetap “merasa marah” lalu memilih untuk pulang. Untung mpok DJ nginep lagi, jadi bisa curhat dan mengirimkan satu SMS ke ‘ibuk’ itu, semoga di-reply coz I really need the answer. Kalau semua ini terus berlangsung seperti ini, mungkin aku harus pergi ke rumah ‘ibuk’ itu untuk minta penjelasan (ya, aku tau rumahnya) dan aku akan sangat bisa menjadikan ini masalah keluarga yang BESAR sekali tapi aku bukan manusia ‘jenis’ itu. I’m not that stupid, but I know sumdeiz stupidipity will be happen, karena aku juga bisa menjadi ‘sangat bodoh’ jika terus diasupi prasangka. I’m a porcelain now, tersegel rapi tapi porselen ini mulai retak di beberapa bagian while my animal is awake inside.

Itu aja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s