SEORANG KETIKA, TEE.

listen: Basil Valdez – You

Hari ini puasa pertamaku.

Kemarin sore ada kalanya sesuatu harus berakhir dan sudah-cukup-selesai-sampaidisini. Tuhanku, kasihanilah renta-rentaMu yang berdua ini. Diwakilkan oleh pelukan hangat yang terus dan terus seperti anak kecil yang tidak mau permennya cepat habis, rasa takut kehilangan yang amat sangat sewaktu kau menyadari bahwa kau memang akan kehilangan permenmu detik itu juga. Seperti ciuman selamat tinggal itu lalu sepuasku menyimpan bau tubuhnya dalam ingatan. Aku pun melepaskan rengkuhan tanganku dengan tubuh bergetar hebat, vulkanis, dan lemas seperti terserang dehidrasi, padahal emosiku saja yang memancing rasa laparku semakin mengejang, salah sendiri belum makan dari malam kemarinnya. “Jangan pergi” dan aku tahu itu tidak lagi berguna ketika pada akhirnya aku hanya bisa melihat punggungnya menjauh, mengecil, mengecil, menge c i l, dan menghilang.

Setelahnya aku hanya ingin berjalan diluar bersama seorang teman atau siapa saja pokoknya yang aku kenal. Jadi dengan tetangga kamar aku pergi ke pasar, membeli beras 3 kilo untuk ditanak sendiri selama bulan puasa, juga wortel, sesuatu yang sudah lama sekali tidak pernah aku lakukan, menggerusnya langsung dengan gigiku dalam perjalanan pulangku, atau ketika aku ‘kebanyakan’ waktu di depan komputer berlinang air mata seperti anak kecil sambil mendengarkan irama-irama sendu dan sesekali lagu jayusnya PMR yang aku jeritkan keras-keras, di setiap waktu senggangku, anytime, seakan wortel adalah makanan kecil sehari-hari.

Manis. Sedikit berair. Oranye cerah, tidak pucat. Ya, Ableh benar. Ketika kita mencintai kita seharusnya bahagia apapun yang terjadi. Ketika kita malah tidak bahagia dan selalu gelisah dengan ketakutan-ketakutan yang berlebihan tanpa alasan, maka kedewasaan kita dalam menyatakan (atau pernyataan?) cinta akan mulai dipertanyakan kembali. Loh katamu kamu jatuh cinta? Lalu mengapa kamu tidak bahagia? Are you sure with that? Are you really know what you mean with that? Is this really love? Dan sebagainya. Duh, saat ini aku merasa yang aku miliki hanya kesetiaan dan nafsu untuk memiliki, bentrok dan crash menjadi mesin rusak.

jikalau telah datang waktu yang dinanti

kupasti bahagiakan dirimu seorang

kuharap dikau sabar menunggu

berilah daku waktu tuk wujudkan semua

janji ini untukmu ku tak akan lupa

kuharap engkau sabar menunggu

kupasti akan datang untukmu

untaian kata-kata yang kuucapkan untukmu

tak seindah kata cinta yang dia berikan padamu

namun kau slalu ada di hatiku

berilah daku waktu tuk wujudkan semua

janji ini untukmu ku tak akan lupa

ku harap engkau sabar menunggu

ku pasti akan datang untukmu

jikalau telah datang waktu yang dinanti

ku pasti bahagiakan dirimu seorang

kuharap engkau sabar menunggu

ku pasti akan datang untukmu

kuharap dikau sabar menunggu…

Kau pikir apa yang Naif pikirkan waktu melahirkan Jikalau? Bahkan aku sendiri tidak tahu, mereka belum pernah bilang padaku tapi aku berterimakasih untuk lagu itu. Naif.

Ah ya, aku tidak tahu aku begini menyukai wortel. Seperti rasa sukaku ketika menempelkan sisa-sisa instalasi dari lempengan kardus yang dilukisi mujadul dengan tulisan “Disini Akan Dibangun Mall” yang kuambil, tepatnya kucolong, dari trotoar di tengah jalanan Sagan, yang belakangan aku lepas kembali selain tidak menempel dengan baik di tembok juga karena tetangga kamar membicarakan masalah ‘penampakan’ dan bahwa hal yang aku lakukan itu sungguh merupakan mediator tercepat dan terbaik yang aku punya untuk menghadirkan sekompi tamu halus, hiiiy, please deh. Sama rajamnya seperti rasa perih yang masih tersisa pada luka kecil (yang tidak jadi membesar) di pergelangan tanganku yang dalam, keperihan yang hampir-hampir kebodohan melulu, bunuh diri dalam skenario yang gagal karena badai topan membuat konslet listrik di hatimu sebelum Tuhan menyapa dan menamparkan kelebat firman lewat kitab-kitab suciNya. Tuhan-ku pemain KungFu yang handal, cekatan, dan bergerak cepat. Sungguh, sungguh, sungguh, s u n g g u h.

Aku benar-benar telah kehilangan separuh dari diriku dengan kehilangannya, cengeng, namun itulah yang aku rasakan, puzzle yang raib kepingan terakhirnya sehingga aku tidak mampu berjanji bahwa aku akan baik-baik saja seperti yang dia tekankan tentang apa yang harus aku lakukan setelah kepergiannya nanti.

Hanya saja ketika sendiri, benar kurasakan cinta itu, dan aku merasa bahagia walau bukan berarti aku salah satu dari bentuk kedewasaan yang paling sempurna. Seperti oranye yang cerah, atas nama aroma asap rokok yang dia hembuskan, atas nama bau deterjen yang selalu melekat pekat pada semua bajunya, atas nama hangat yang selalu dia hadirkan dalam setiap dekap, atas nama setiap kata ma’af yang tersirat dari matanya dan terucap melalui bibirku, serta atas nama semua deras airmata dan bunga-bunga yang tumbuh pada setiap perpisahan dan pertemuan yang tercipta, yang kita ciptakan…

Aku mencintaimu.

Selamat tinggal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s