KETIKA KAU ENTAH

Ketika kau entah dimana dalam nadiku
kusaksikan gertak suara itu
belum pernah kukenal sebelumnya
cuaca tersirat begitu tiba-tiba…
ketika kau entah dimana dalam urat darahku
kudengar lengking suara itu
seperti asing rasanya
matahari senja tak ingin tenggelam di ufuk sana

(Ketika Kau…: Sapardi Djoko Damono, 1989)

Aku mempunyai kesenangan sendiri atas penikmatan dunia dalam dan dunia luar yang tak terbagikan dengan orang lain karena terkadang mereka tidak bisa, tidak mau, atau apa yang mereka rasakan tidak akan pernah bisa sama dengan apa yang aku rasakan. Aku sering sekali memandang keluar kamarku melalui tirai yang kupasang diluar daun pintu. Matahari sore-lah yang lebih sering menggelitikku untuk selalu menoleh dan terpaku lama memandang keluar. Dalam keadaan biasa, yang terlihat disana hanya dua buah daun pintu kayu dan sederetan motor yang diparkir di halaman tapi saat aku memandang melalui tirai yang transparan itu, aku memandang surga para bunga. Seperti aku melihat taman dunia liliput sewaktu aku memandang keluar melalui pintu loker jurusan di bekas kampusku ketika hujan turun sangat deras. Layaknya seorang penonton yang kerap tidak percaya dengan penglihatannya sendiri, aku pun selalu merasa kehadiranku disana hanya penjelmaan dari kesendirian sementara kehadiran alam khayal itu selalu hampir nyata di mataku.

Hmmm, terkadang menyenangkan seperti ketika kau berjalan kaki di pinggir jalan raya yang sedang sibuk dengan aktifitas kendaraan yang lalu-lalang dan berisik, tiba-tiba semua aktifitas itu habis (bukan berhenti) dan suara-suara itu menghilang untuk semenit, semenit paling menyenangkan dalam hidupmu. Dan ketika tubuhmu sudah hampir seakan melayang terbang, aktifitas yang ‘habis’ tadi dimulai dari nol kembali dan dari kejauhan sayup-sayup terdengar raungan motor yang melaju, melewatimu begitu saja seakan itu start sebuah lomba, lalu kau tahu sedetik lagi akan menyusul suara-suara kendaraan yang lain dan lalu-lintas akan kembali sibuk. Kau hening. Ah…

Sore ini aku terhipnotis untuk berdiri keluar menyibak tirai. Efek yang terjadi seperti backdraft pada ruangan yang terbakar. Aku terpana dan rasanya tubuhku menjulang semakin tinggi, sama seperti lintasan cahaya matahari yang sedikit terpecah pada sisi-sisi balkon lantai dua bangunan kostku. Memandang sinar Tuhan, yang menyentuhkan ujung-ujungnya seakan jari-jari pembimbingmu menuju langit. Dan aku akan terus memandangnya, sampai awan yang lalu-lalang akan perlahan menutupi garis-garis itu pada akhirnya. Seperti senja yang kian matang lalu meredup, meredup, meredup dan semakin meredup lalu menghilang.

Namun biasanya aku akan masih terpaku berdiri di depan pintu kamarku dengan tirai yang masih tersibak, membuat semuanya tetap bergerak disekelilingku dua kali lebih cepat, cepat sekali, “Wiiiiiyyy, cihuuuy!”, seakan tahun telah berganti dan aku masih tetap berdiri disana, menunggu sesuatu kembali sampai aku membatu. Mungkin beberapa tahun mendatang, lintasan cahaya itu akan jatuh di atas tubuhku yang telah menjadi batu seakan ingin melepaskan sebuah kutukan.

Percuma. Ini bukan kutukan.

Aku melihat program satwa liar di televisi Sabtu pagi. Sejenis musang dan kucing Linx berbagi habitat dengan sukses tanpa saling mengganggu ekosistem dan makanan buruan mereka, tetapi ketika mereka bertemu tetap saja si kucing besar akan mengejar si musang mungil dan itu benar-benar dilakukannya bahkan ketika Linx harus mengejar sampai ke pucuk pohon, dan aku pikir itu dilakukan Linx bukan karena dia ingin menjadikan si musang mangsanya. Itu mengingatkanku pada sebuah situasi yang sangat aku kenal dan aku alami sendiri saat ini, dan sungguh, itu sangat lucu menyadari betapa kita mirip sekali dengan hewan. Apa manusia itu benar lebih tinggi derajatnya? Dan ketika aku menanyakan hal tersebut, aku mengerti bahwa aku telah melanggar apa yang ditasbihkan atas nama hitam dan putih. Ya, manusia adalah makhluk yang tertinggi derajatnya tetapi wujud binatang akan tetap menjelma pada diri kita.

Dan, ini juga bukan kutukan.

Dunya ini labayan, hapitan, panayaman. (peribahasa Tausug)

Ya, sebuah peribahasa halus dari kenyataan bahwa dunia ini merupakan stasiun persinggahan dari perjalanan kehidupan, di mana sebentar-sebentar kita berhenti dan sebentar-sebentar jalan lagi.

Terkadang kehidupan berjalan tidak semestinya. Tidak seperti yang kita harapkan. Tidak juga selurus yang kita kira. Aku, kita, terlalu mengetahui hal itu dengan baik sehingga kita mulai menutup mata-telinga dan berkata bohong pada diri sendiri.

Ampunilah…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s