BUKAN JAWABAN

Dia bilang dia ingin mengambil cahaya dari sorot mataku karena dia diam-diam menyukainya. “Mengapa wanita di televisi cantik-cantik?” serunya kesal. Aku tergeletak tak berdaya, berada dalam gang-gang sempit ingatanku tentang dirinya. “Aku bahkan tak lagi merengkuh peradaban berkaus oranyeku: penjelasan” kataku kemudian.

Apa yang merasuk dalam setiap pertemuan tatapku dan dia setiap aku tersenyum melihatnya bangun pagi dalam beberapa kesempatan yang tercipta, dan dia balas tersenyum dengan mata tidak sadarnya, adalah dongeng panjang tentang sebuah negeri yang melayang-layang di angkasa, dilapisi bola kaca dan jajahan petir di langit pembungkusnya, hanya agar tidak ada yang bisa mendekat.

Lalu kami menjadi terlalu berhati-hati. Bersijingkat dengan masa lalu sehingga tak terlalu nafsu lagi dengan perjalanan yang ada di depan. Seperti aku sudah letih menggores telapak tanganku sendiri, memakai darahnya untuk berjanji setia pada pasanganku, tentu saja secara diam-diam. Atau seperti dirinya yang “Aku masih bersamanya dan masih menyukainya” katanya di akhir salam selamat tinggal kami. Atau seperti kataku kemudian “Maka setialah kamu lelaki, jangan seperti masa laluku yang poranda padahal sudah kehilangan badainya” lagi-lagi: menjelaskan. Ini tidak boleh menjadi gempa bumi yang kedua pada hidupku.

Lalu aku berteriak-teriak gelisah, mencemari hari-hari dengan kata-kata kotor karena aku pikir aku pandai disana. Lalu semua orang mulai merasa sakit dan terjatuh satu-persatu karena cacian-cacianku. Dan aku berdiri berkacak-pinggang mengira aku telah menang. Padahal setelah itu aku menemukan tidak ada siapa-siapa sejak aku membuka mataku sampai kemudian aku kembali menutupnya. Itu mengerikan, ketika semua orang meninggalkanmu.

Hai lelah, mengapa kau akrab sekali padaku. Seperti karib yang tak bisa dipisahkan lagi setelah bertahun-tahun selalu bersama. Sementara lelaki itu masih hadir disana, terlihat mengukir kata-kata dalam diam, mungkin sedang berpikir untuk meninggalkan dan melupakanku: kamu berusaha keraskah?

Lalu aku benar-benar menjadi terlalu berhati-hati, karena masa lalu itu memalukan bahkan pada saat yang paling menyenangkan. Aku menginginkannya, wahai laki-laki (yang kuharapkan akan) setia padaku? Biarkan aku duduk dulu dalam engahku, karena sesak ini tidak kunjung selesai, malah kian hebat ketika kami tak lagi mencoba untuk sengaja dipertemukan. Wajahnya sudah sering sekali berada begitu dekat di depan hidungku, sebelum aku dikenalkan dengannya sebagai pasir dan lelaki itu sebagai mata yang berair terkena debu. Dari semerawut kata yang keluar pada setiap percakapan, tidak berpasangan dan menikah adalah solusi yang paling hebat. Jayalah masa muda. Ya, baru sekarang aku ingat, pesawat penyelamatku terlambat seribu kali cahaya lagi.

Sesal jadi tak kunjung padam dan aku seribu kali lebih menginginkan kehadirannya pada masa setelah hari ini. Menginginkannya sungguh.

Aku tak selalu menyimpan jawaban. Hoy! Lihat! Tolonglah!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s