SURAT YANG TAK TERKIRIM

Selamat malam ma, pa.

Telah genap 4 tahun aku meninggalkan rumah. Aku akan tetap merasa seperti itu walau aku pernah menyempatkan diri untuk menjenguk, longokan kepala yang biasanya hanya bertahan paling lama 3 hari, untuk melepas peluk yang tak pernah terjadi sebelumnya, sewaktu aku masih selalu berada disana, atau ciuman-ciuman tanda sayang di pipi, untuk ayah dan ibu, kalian, orangtuaku.

Telah genap 4 tahun aku meninggalkan rumah. Aku akan tetap merasa seperti itu walau aku pergi bukan melarikan diri. Dan masih hanya bertahan paling lama seminggu saja untuk menginjakkan kakiku di bekas kamar dan ruang tamu kita yang kini sudah tak ada. Rumah yang catnya semakin gelap dimakan usia, dengan dinding-dinding tambahan yang kian menyempit karena kebutuhan, dan udara yang makin berubah, lintasan yang semerawut dan makin menjadi setiap aku kembali kesana. Namun harumnya masih sama, lemari kayu dan jas-jas kerjamu dulu ayah. Keringat ibu di daster yang dipakai memasak. Rengek adik yang tidak lagi pernah terdengar karena dia sekarang sudah dewasa, ma’af sayang, kakakmu ini bahkan tidak ingat berapa umurmu saat ini. Ma’af ma, pa, aku lupa tanggal lahir kalian. Beribu ma’af.

Telah genap 4 tahun aku meninggalkan rumah. Aku akan tetap merasa seperti itu walau telepon masih menyampaikan kabar-kabar rindu kita. Telepon yang jarang sekali terjadi karena kantong bajuku lebih sering kosong melompong daripada berisi. Aku hanya mampu mengirimkan lewat doa ma, pa. Aku tidak pernah ingin kalian tahu apa yang aku rasakan disini. I never let it go. Bukan untuk kalian mengkhawatirkan anak hilang ini. Bukan sesuatu yang pantas. Suatu hari nanti peran kita akan ditukar, dan ketika saat itu tiba, aku ingin bisa menjaga apa yang aku punya, yaitu kalian.

Pa, hari ini aku berpapasan dengan (hampir) Andy Warhol. Rambutnya masih seperti sapu ijuk, berwarna putih perak. Dia tidak mengenakan kacamatanya tapi di telinganya terselip earphone yang aku tahu terpasang dari iPod-nya. Dia berjalan seperti perempuan. Bicara masalah perempuan, ada Lolita memompakan sepedanya tapi ternyata sepedanya masih belum perlu dipompa, lalu dia berlalu dari hadapanku yang duduk menunggu di bengkel itu. Dan mbak Dian bercerita bahwa groupies, setahu dia adalah “Cewek-cewek yang ngintil dimana band-band yang tenar maen dan kemana personil-personil band itu pergi. Seksi, pirang, mau diajak tidur bareng, dan bodoh”. Aku pernah cerita kalau mbak Dian tumbuh besar di Hawaii?

Ma, sepedaku kemarin malam rusak. Sedang di tengah perjalanan tiba-tiba jalannya tidak terkendali dan aku lalu berhenti. Rasanya seperti habis melindas paku tetapi kulihat ban sepedaku tidak apa-apa dan baik-baik saja. Ternyata yang bermasalah adalah roda yang hampir saja copot dari engselnya. Aku lalu mengayuhnya pelan dan jarum jam bergeser menuju tengah malam karena itu. Sepeda itu terasa aneh, seperti sedang dipakai di atas beribu kerikil yang dibiarkan tidak rata. Hati was-was. Membayangkan di isengi orang di jalan dan roda belakang yang tiba-tiba meluncur lepas dan mendahuluiku merupakan ironi yang membuatku ingin terbahak di depan Universitas Negeri Yogyakarta.

Sore tadi aku berjanji mengantar CD untuk mbak Lala, ma, pa. Aku janji datang jam 5 sore tetapi bapak di bengkel tambal ban samping gedung BCA Sagan serius sekali membenahi roda sepedaku. Dia bongkar semua, dia perbaiki sampai ke yang ‘pricil-pricil’. Dua jam ma, aku duduk menunggu. Dan aku jelas gelisah pa, ketika sampai di kost jam menunjukkan sudah hampir pukul 6 sore. Aku SMS Yogi lewat HP mbak Dian, memberi pesan agar Yogi menyampaikan ke mbak Lala bahwa aku terlambat tapi sepertinya ada masalah dengan provider sehingga tidak ada satupun pesan yang bisa terkirim. Aku mulai berpikir, lalu aku mandi, lalu berangkat, gerimis, topi, dan kain songket untuk leherku. Sepedaku enteng sekali dikayuhnya, bapak di bengkel itu ternyata mengejutkan sekali, tangan rapuh yang ajaib, pak tua bertubuh ringkih yang terbatuk-batuk setiap habis melepas baut.

Aku juga sudah tidak sedih lagi pa. Laki-laki ini berbintang Aquarius, itu kalau dia tidak sedang bercanda dan berbohong tentang tanggal lahirnya. Aku senang sekali bisa mengenalnya ma, mungkin akan mengherankan kalau bertemu dengannya karena tidak terbiasa. Dia itu seperti mesin tanya tanpa baterai, mencerna banyak jawaban untuk dikembalikan menjadi pertanyaan. Walau apa yang aku jalani terbatas pada bagaimana dia dan aku menyikapi hari, seperti kami mungkin tidak memiliki Senin pada minggu yang lalu, namun memiliki Senin pada minggu ini tapi tidak dengan Rabu dan Jum’at. Kami hanya segenap tegur sapa yang tidak bisa dijelaskan pada orang lain karena itu bukan konsumsi massa. Massa tidak akan paham.

Ini suratku ma, pa. Karena aku tidak menghilang. Dan aku menyesal karena berhenti mengatakan apa-apa pada kalian. Aku hanya belum mengerti, ah, mungkin hanya belum ingin mengerti. Mohon sabar ma, pa. Ma’afkan aku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s