LEMBAYUNG ABU

Lelah menemani ayah, melepas kangen dengan eyang putri yang setiap bertemu terlihat semakin renta, dan keluarga besar yang sedang berkumpul di kota ini, berkeliling, berbelanja, dimana sepupu-sepupu perempuan dan tante-tantenya meneruskan nafsu pada kain-kain bermotif bagus dan melenakan mimpi pada sebaris potongan-potongan gaun wanita. Membuat nafas sengalnya sedikit-dikit tersumbat bau parfum yang masih menyisa ketika anak perempuan ini, sudah bisa duduk di lantai kamar kostnya.

Lalu seseorang di kejauhan…

“Mbak Mitaaa! Mbak Mitaaa! Ada telpon.”

Anak perempuan dengan suara ceria itu menyahut…

“Iya mbaaak, makasih yaaa!”

a: Halo, sore! *ceria*

b: Sore. Mita?

a: Iyyah saya. Ini siapakah? *ceria*

b: Mita jangan kaget ya. Ehm. Ini mama Yanti…

a: Iy…yaa, uhm, eh? *nada ceria mulai menggelepar keracunan, bercampur bingung*

b: Mama mau ketemu, boleh?

Lalu anak perempuan itu menjelaskan bahwa dia sedang mau berangkat ke tempat kerjanya. Dan karena sudah terlambat serta terburu-buru, dia akhirnya menerangkan letak tempat kerjanya sehingga mereka bisa bertemu disana.

Dia pegang dadanya. Tidak ada detak yang berdetak lebih cepat dari seharusnya. Ini aneh, karena seharusnya ada yang kejar-kejaran di dalam sana, karena mereka berpisah sewaktu umur anak itu berumur 6 bulan. Masih bayi. Dan bisa dibilang ini adalah kali pertama anak itu mendengar suara, dan akan bertatap muka dengan…ibu kandungnya.

Dia berjalan keluar pagar, melanjutkan niat semula yang ingin berangkat bekerja tapi kemudian dia bolak-balik kembali ke kamarnya sampai 5 kali karena melupakan beberapa hal, melupakan barang-barang tertinggal yang seharusnya dia bawa. Sekarang dia tahu bahwa dia terkacaukan pada apapun itu yang baru saja terjadi. Renik-renik halus di dalam dadanya ternyata tidak setenang yang dia kira. Dia lepuh pada nafas-nafas tenangnya dan leleh pada wajah dinginnya, namun akhirnya dia berangkat juga.

Dia berangkat tanpa sepedanya karena beberapa hari yang lalu sepeda itu dia inapkan pada tempat kerja tujuannya. Dan dia enggan berjalan karena sudah terlambat, dan dia lebih enggan lagi jika harus naik kendaraan umum karena merasa sedang ingin sendiri, dan akhirnya dia memilih bernego dengan bapak penarik becak, dan semenit kemudian anak perempuan berpenampilan serba hitam itu sudah termangu-mangu di dalam kendaraan serupa sepeda beroda tiga itu.

Langit dihiasi serpihan-serpihan awan kelabu. Di atas kirinya jingga-jingga tersapih sempurna memberikan efek tragis pada abu-abu yang terpecah-pecah. Senja mengerang dalam ketidakpastian yang didebatkan oleh hitam dan putih. Entah ini indah atau malah sebuah pertanda pada titik paling ironis dalam hidupnya. Dia tidak tahu. Hanya ingin memandang takjub langitnya sebelum semuanya menghilang tak berbekas. Sangkaan tak memperdaya. Siapa yang mengira…

ps: Eh ada artwork baru noh, Rapa bikin waktu di rumah Ponco pas hari…hari apa ya itu? Sabtu kemaren kalo ndak salah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s