APA LAGI SIH INI?

Kemaren gue ngejalanin sebuah test 3 jam lamanya, berakhir dengan mata penuh kunang-kunang yang menandakan sepertinya mata gue beneran mulai minus. Pulang kuyup kehujanan. Sampai kost dia sudah hilang. Hujan masih deras. Reda pukul 2 siang, gue ngacir ke EH minjem dapur buat bikin pudding jeli, 4 rasa, bentuk gajah, ikan, kelinci, beruang. Terus gue bawa ke Ponco, langsung abis huahaha, kok ya kebetulan lagi rame orang, untung gue bikinnya banyak banget (asli banyak banget, itu aja udah gue bagi sebagian untuk temen-temen di kantor Arcapada). Hummm…cuma pas mitnait gue akhirnya minta tolong Bes untuk dianter pulang. Soalnya kepala gue pusing, gusi senut-senut, badan pegel dan rada meriang. Begitulah sepertinya flu mulai menyerang, kali gara-gara kehujanan dan keanginan siang tadi ya.

Nah giliran tadi gue lagi enak-enak nangkring di atas WC when suddenly, sumthin about yesterday, especially last night, coming over my head and make me laugh. Gimana nggak kalo inget that I’m doin sumthin silly with hangover my lucky feeling on those kindo green jello with elephant shapes haha, ada yang ikan pula, beruang ma kelinci, untung nggak ada yang bebek. He even doesn’t care anyway, sepertinya.

Hanya yang jadi masalah adalah bukan itu, gue pikir ada jelesi-jelesi membara dalam hati sewaktu seperti lupa keadaan, gue pengen nangis di depan monitor. Cuma kembali ke keadaan gue ketawa sambil boker tadi, kok bisa-bisanya ada jelesi-jelesi, bisnis gue disana tu apa? Ladang zero loh. Bahkan nggak ada ruang buat gue disana. Gue jelas-jelas bisa jungkir balik nangis darah, desperate mengasihani diri sendiri kalo dilarut-larutkan. Mungkin gue cuma iri, dan gue pisahin rasa iri sama rasa cemburu, yeah I will.

Setelah capek nongkrong di WC sambil cengengesan, pikiran gue ngembara ke petak laen dari sawah-sawah siap panen yang numpuk di dalem kepala. I’m thinkin bout…masa depan gue, misalkan, sebagai wanita yang umum dan kebanyakan, bahwa mungkin seumur hidup yang tersisa, gue belum akan bersama dengan lelaki baik yang jelas will take care gue dan ngejaga gue sebagai apa yang mengisi hidupnya, bukan sebagai apa yang dia miliki. Atau kemungkinan terparah, gue cuma dijadiken objek seks dan semacamnya. Waiting for the real life ternyata adalah “thatz it mau apa lagi”? Wow! Ada semacam hurt feeling yang tertinggal setiap gue mikirin itu. Plus lagi dengan semacamnya appeal-appeal nggak penting itu.

Came in from a rainy Thursday on the avenue
Thought I heard you talking softly.
I turned on the lights, the TV and the radio
Still I can’t escape the ghost of you
What has happened to it all?
Crazy, some’d say,
Where is the life that I recognize?
Gone away…

But I won’t cry for yesterday, there’s an ordinary world,
Somehow I have to find.
And as I try to make my way, to the ordinary world…
I will learn to survive.

Passion or coincidence once prompted you to say
Pride will tear us both apart
Well now pride’s gone out the window cross the rooftops, run away,
Left me in the vacuum of my heart.
What is happening to me?
Crazy, some’d say,
Where is my friend when I need you most?
Gone away…

Reward-reward apa yang akan dihasilkan, award-award macam apa yang ditunggu?

Sebelum berangkat kerja ke EH gue mandi lagi. Malem Minggu gue bisa kebagian gawe karena gue rese tukeran jadwal beberapa hari yang lalu. Kalo malming gini coffee shop gue tutup jam 12, mitnait. Di kamar mandi gue mikir tentang betapa sedihnya ngebayangin seseorang yang not belong to me (atau sebaliknya). Bagaimana gue ngebayangin pada akhirnya mereka akan memberi ucapan selamat malam dengan saling mencium pipi pasangannya (yang jelas bukan sama gue), bagaimana pada akhirnya pelukan-pelukan itu pun bukan untuk gue.

Kau menginginkan yang bukan untukmu maka laknat Tuhan akan turun menjadi pagar bernama “perbedaan-perbedaan mutlak yang tidak bisa kamu ubah keadaannya kecuali salah satunya benar-benar mau berkorban”. Seperti perbedaan kepercayaan? Ini harus dibaca dengan catatan bahwa, gue nggak nyalahin Tuhan. Inget, Dia yang ngasih kita jodoh, dan dia akan bantu itu terjadi. Dan catatan lagi, gue nggak ngomongin masalah jodoh, kepercayaan, atau betapa hampanya malem Minggu gue karena gue jomblo, haduuu gimana ya, nggak, bukan itu yang pasti.

Gue cuma sedikit sedih bahwa gue kerap lupa. Lupa bahwa dia itu nggak sedang sendiri. Sehingga gue akan selalu tidak siap melihat dua orang ini bertemu dan gue yang juga ada disana bisa langsung terpental sekian mil ke sudut paling runcing yang pernah ada. Terlupakan dan yudadababay. Apapun yang dia bilang akan terjadi dengan hubungannya tetap akan menjadi tidak adil bagi siapapun kalau gue pada akhirnya maksa dia ngejalanin semua sisa hidupnya sama gue (kayak dia mau aja haha), kecuali semua pihak berkepala dingin dan mengikhlaskan, menjadikannya Que Sera Sera yang pasti akan di ikuti dengan “whatever will be will be”-nya yang ngganteng itu *medok*.

Dan jelesi-jelesi keparat tersebut di atas…ahoy, mirip sejenis rasa-rasa posesif yang kebanyakan pesan tak guna. Akibatnya rasa mual itu mendorong keras dari dasar lambung, gue terjongkok di kamar mandi, nggak tahan, batuk-batuk sampe keluar aer mata.

Gue ‘sakit’ apa sih? Behave kek. Duran Duran aja anteng. Kadang, seperti Raya, gue ingin juga menarik diri dari keributan ini. Duh Gusti, mbok ya cukup. Hari gini gitu loooh, jangan biarkan sayah meliara susah hati. Dikata enak apa? Edun lah.

ps: Aku add artwork lagi dan sumpah jelek buanget. Tadinya emang cuma untuk cerpen baru tapi dipikir-pikir kalau di-edit bisa bagus sih buat ditaruh di halaman artwork. Ya nantilah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s