GEMUK

listen: Al Green – Ain’t No Sunshine

Ain’t no sunshine when she’s gone
only darkness everyday…

Aku sedang mandi ketika iseng aku menginspeksi perut, pantat, lengan, pinggang, dan kusadari bawah lapisan-lapisan lemak itu begitu tebal. Sampai aku teringat kue bolu gulung. Selulit terlihat di paha atas, tepat di bawah tulang pinggul, tak tahu jika ada banyak lagi di paha bagian belakang. Ehem, pada dasarnya, sebenarnya (malah), aku tidak tahu-menahu bentuk selulit, nebak-nebak aja. Eh I’m sorry loh mother father, aku emang bukan wanita kebanyakan, karena aku ini termasuk lemot (tumbuhnya) sebagai seorang perempuan. Lalu ada cuplikan-cuplikan adegan yang melintas di kepalaku. Disana aku sedang berjalan dengan seorang teman perempuan yang tentu saja seseorang yang aku khayalkan dan tidak ada yang aslinya di dunia nyataku.

Kami sedang berada di sebuah butik baju-baju perempuan dan anehnya itu ada di pinggir jalan semacam ‘avenue-avenue’, mungkin karena aku kebanyakan menonton film-film sitkom luar negri. Temanku itu, seperti diejakan otakku, sedang mencarikan gaun atau apalah pakaian wanita, untuk teman kami lainnya yang sebentar lagi akan menikah.

Dan temanku itu mencabut sebuah gaun dari rak. Lalu dia memperlihatkannya kepadaku dan bertanya “Kira-kira muat nggak ya kalo yang ini?” dan otomatis, tanpa pikir panjang, disana aku menjawab “Mana aku tahu, aku gemuk”. Lalu temanku itu memandang sebal kepadaku namun dia tertawa juga, makin lama makin terbahak sambil berlalu membawa gaun itu ke kasir.

Tiba di luar butik dia masih tertawa dan merangkulku dengan sayang, lalu berkata “Ya, kamu gemuk, gemuk dan jelas-jelas sedikit gila, itulah kenapa kami mencintaimu” dan dia masih juga tertawa walau sudah tidak segeli tadi, lalu aku juga mulai tertawa. Dan yang kuingat kemudian, sebelum pulang, aku merancang agar mereka berdua, aku dan temanku yang di dunia khayal itu, mampir ke kedai es krim dan kopi, lalu makan es krim, masing-masing semangkuk besar. Dan “Byuuur!” kembalilah aku ke alam kamar mandi kost.

Kalau aku sih, melintasnya kata “Mana aku tahu, aku gemuk” tadi, karena biasanya seseorang atau aku sendiri, mengajak seseorang lainnya, dalam kasus ini: membeli baju, karena seseorang lainnya itu akan kujadikan tolak ukur dari tubuh orang yang akan kami belikan baju. Seperti dulu tanteku suka sekali mengajak aku ketika ingin membelikan anaknya yang paling besar sepasang baju atau apalah, karena ukuran tubuhku dan ukuran tubuh sepupuku hampir sama, dan tentu saja tidak hanya sepupuku yang akan mendapat baju baru saat itu ;p dan aku berterimakasih sekali karena sepupuku tidak pernah suka diajak berbelanja sehingga aku yang selalu ‘kena getahnya’. You know…tiba-tiba ada kaus anak-anak ditempelkan ke punggungmu lalu tantemu atau siapamulah akan bergumam “Hmmm…pas, pas, pas” hahaha.

And for your information, dahulu kala, ukuran tubuhku adalah yang paling disenangi di berbagai pertemuan keluarga, dimana mereka akan dapat mengeluarkan kata-kata seperti “Ya ampun kurusnya, mbok kamu makan yang banyak, kata papa kamu nggak suka makan sayur ya, kamu anak perempuan loh, nanti ndak ada yang mau kalau kurus banget kayak gitu” atau “Ah kamu ini, kasian loh itu papa sama mama, nanti disangkain nggak pernah ngasih makan kamu” tsaaahhh, sekarang dong…

Sumtimes life is malah not easy jika kamu memikirkannya secara begitu-gitu saja. Tak punya duit cari kerja, gemuk lalu aerobik, kurus maka makanlah yang banyak, bertengkar maka berbaikanlah. Menurutku itu simplisitas yang kurang menarik dan eh eh, ini bukan defense loh haha, dan jangan salah mengerti, bukan berarti lo berantem, terus karena lo pengen hal tersebut berjalan nyentrik, maka lo merasa nggak usah baikan aja biar beken. Bukan gitu kali ah, hari gini mana ada beken-bekennya masih malu bilang “Ma’ap”.

Aku kadang-kadang cemas dengan lengan dan perutku yang segede bego ini (benar-benar bukan ukuran normal anak bangsa loh), yang melar setelah aku pensiun jadi ‘olahragawan’ yang…ya, dulu hari-hariku selalu kulalui dengan berolahraga, paling sedikit 3 kali seminggu dan itu pun dua porsi, pagi dan sore. Terakhir aku berolahraga, pagi itu berarti aku nongol sendirian di lapangan softball universitas, berlatih terlalu keras alias ngoyo mempraktekkan teknik menjadi pitcher yang keren (padahal posisiku tidak akan kesana, I’m a catcher, tempat yang beresiko paling tinggi, terkena bola terus-terusan dari batter buodoooh yang terkadang aku lakukan juga ;p). Nah kalau yang sore, itu berarti kadang-kadang bolos mata kuliah demi bisa ngacir ke lapangan, latihan umum sama anggota yang lain (termasuk tim baseballnya) dan terkadang juga tim-tim dari kampus tetangga, gituuu, hwehehe.

Apalagi aku tidak suka diet. Ya ampun, kok diet sih? Lagian, bingung soalnya sama diet remaja-remaja Indonesia, orang mah ngurangin kalori atau lemak atau karbohidrat dengan hanya menyingkirkan/mengurangi makanan atau minuman pemicu dengan seadanya dan sebutuhnya, eh ini mah malah ngurangin makan dimana mereka benar-benar terkadang cuma makan sekali sehari, itu pun seuprit, et dah…diet ajaran mana itu? Nanti malah “Hai, kok kamu disini?” hehe, ketemu di lorong rumah sakit ;p

Akhirnya harapan terakhir ya cuma olahraga. Yang jadi masalah adalah, aku terlalu deep thinker ;p Jadi begini, kalau aku berolahraga, sekedar lari pagi misalkan, aku berarti harus bangun pagi sekali karena sepertinya lebih enak lari pagi di daerah bunderan UGM ketika orang-orang belum waktunya berangkat kerja. Males banget kalau udah rame. Kalau sore, I can’t karena biasanya aku melakukan kegiatan lain dan yang pasti bukan ber-olahraga. Cuma…bangun pagi? Ah sulitnya jadi orang yang lebih sering naik ke atas kasur jam 5 pagi. Dan juga, itu berarti aku akan menumpuk pakaian kotor 4 sampai 6 buah per minggu (dan itu baru dari pagi harinya saja), dan kalau aku malas mencuci…pada akhir minggu ke-3 aku sudah tidak akan punya baju lagi ;c ngeeeng, gimana?

Buntutnya, itu berarti aku memang harus membenahi dan merubah gaya hidupku yang preman itu bukan? Padahal itu menyenangkan sekali, jam 3 pagi, dapat inspirasi, ngidupin komputer dan ruangan redup redam karena sinar yang ada asalnya cuma dari lampu meja sama monitor komputer, dan tentu saja segelas minuman panas, bisa plain milk yang jelas aku selalu bikin kental, atau teh, atau coklat, atau susu kopi (karena aku payah sekali kalau harus minum kopi doang), dan tidur enak sampe kira-kira jam 9 pagi yang saking nyenyaknya suka sampai nggak mimpi apa-apa. Mimpinya biasanya malah kalau aku tertidur lagi dari jam 9 pagi itu sampai siang huahaha. Atau biar irit baju, sok-sok kayak Cameron Diaz yang kalau udah demen pakai satu baju, dia akan pakai terus baju itu, bisa sampai seminggu lebih. Ehem, jangan dimasukin hati yes, bedanya…kalo si Cameron Diaz, setelah itu, bajunya nggak akan pernah dia pakai lagi sampai akhir hayatnya, alias dibuang, kalau aku kan nggak hihi, beberapa kaosku sekarang masih ada tuh yang umurnya sudah sejak aku umur 14 tahun, ada fotonya kalau mau liat *tersipu*.

Sebenarnya bukan karena aku malas loh tapi banyak hal-hal penting yang bisa terjadi di waktu-waktu yang tidak tepat karena terkadang aku pun terjebak pada situasi dimana aku tidak akan pulang ke kost-ku sampai 3 hari dan sialnya, kadang aku menyukai situasi jebakan ini hihihi. Dan di tempat lain itu pun biasanya asosiasiku terhadap waktu akan lebih abstrak lagi. Tidur nggak lah, bangun pagi apalagi, wong kadang jam 8 pagi aja baru ‘ngelungker’ di sofa rumah orang. Makan terlalu malam (dan biasanya memang begitu jadinya), dan minum teh terus-menerus bisa sampai 4 kali dalam hanya beberapa jam. Dan kalau aku tidak ada di kost, jelas baju-baju kotor itu akan tertumpuk saja di kamar dengan tentram dan damai tanpa ada yang mencuci. Jreng! Aku sih ogah cuman pake kolor doang di akhir bulan saking udah nggak ada baju lagi, tsk tsk tsk *hiperbola paleo javanicus*.

Cuma, I don’t know, sekali dalam beberapa bulan yang telah aku lewati, kadang aku memang diserang krisis percaya diri yang berlebihan, dan jika masa itu sudah terlewati, aku akan cuek sekali dan bingung sendiri, “Kok bisa sih krisis pede?”

Nah sekarang aku sedang krisis pede. Walau seratus persen sadar bahwa yang manis adalah mukaku ketika sedang nyengir *narsis kumat narsis kumat narsis kumat*, dan aku bukannya bakalan nyapa orang pake pantat atau berpikir dengan perut yang tiba-tiba jadi jenius tapi masalahnya saat ini aku memang sedang krisis percaya diri sekali banget amat.

Nah, repot kan? Kan? Kan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s