DONGENG SEBELUM TIDUR

dan ternyata cinta,
yang menguatkan aku

(Padi – Ternyata Cinta)

Barusan denger lagunya Padi yang itu. Memberi sedikit pesan buat gue, dan juga bikin gue pengen ngedit entry ini dari apapun bentuknya tadi malam. Selama ini orang berpikir bahwa patah hati atau sakit hati atau apalah namanya, membuat mereka menderita. Padahal yang membuat mereka makin memahami hidup dan semakin kuat menjalaninya adalah karena adanya juga sebuah andil besar dari kontribusi rasa sakit yang dihasilkan cinta blekecet itu. Kita nggak ngomongin rasa sakit dari tertikam atau tercambuk, gue bukan pemuja rasa sakit yang SPANK ME OH YES BABE! gitu ;p

Dan ya ya I know…another blarfing words yes miss Deedee *blink to my siesta* but this is a story, sejenis cerita sebelum tidur, kontribusi dari gue untuk siapapun yang menghargai dan jujur pada perasaan sendiri. Enjoy.

Dua bangau berkawan sejak lama. Yang satu bernama Lelaki, yang satu Perempuan. Terbang bersama namun hinggap di tempat yang berbeda, membuat mereka selalu bertemu dengan membawa dunia baru pada rentangan sayapnya. Bukan beban, hanya semacam peradaban cilik tempat mereka menanam mimpi.

Lelaki bergejolak, terlahir lebih muda dan bersemangat, menggiring langit ke gelegar penuh gelak tawa membahana. Lelaki milik angkasa. Semua dapat melihatnya, atau merasa memilikinya tapi dia tidak pernah lagi hinggap di tanah. Lelaki pernah terjatuh mengejar seorang putri, dan tak ingin lagi merasakan kerikil tajam menusuk tubuhnya. Lalu dia tak pernah lagi perduli pada keadaan bumi walau sesekali terlihat betapa dia merindukan sang putri.

Perempuan memiliki bara, tak pernah padam walau tak lagi punya semangat untuk berpijar membakar seisi semesta. Perempuan terlahir lebih dulu untuk merasakan sebuah parodi hidup yang tak pernah menghapus rasa sakit dari matanya. Dia Perempuan, pernah memiliki kerajaan mungil yang terbuat dari gula-gula janji berwujud rasa senang yang tak ada habisnya, yang hancur dan leleh terkena terik dan basahan hujan sang angkara murka.

Dan lalu diciptakan sebuah hari, dimana Lelaki dan Perempuan bertemu, saling menyapa dan menyentuhkan jemari hanya seperti biasanya, sebagai kawan lama yang sudah terlalu sering bertemu. Namun sesuatu terjadi. Hanya dewa di langit yang dapat membuka kotak kejut, atau raksasa lambang setan perkasa sedang akal-akalan memainkan perasaan, sehingga semua berjalan tidak semestinya.

Salam yang diberikan dan diterima pada setiap jemari itu menyampaikan sulur halus yang bergetar. Perempuan bertanya “Hei, apa kamu! Mengapa rasamu lucu? Terkadang membuat nafasku tertekan hebat, terkadang membuatku tertawa sampai menangis. Dan kau menggangguku di malam-malamku”. Dan getaran itu menjawab “Aku cinta, Perempuan. Pernah tinggal di balik dadamu bertahun lamanya, juga pernah membangun lambungmu dengan seribu sayap kupu-kupu sampai kau mual dan muntah kata-kata indah. Tidakkah kau mengenalku sebelumnya?”.

Di malam kedua Perempuan kembali bertanya, “Hei, apa ini! Sesak sekali, seperti merindukan sebuah kehadiran, seperti sedang memandangi wajah pada kaca, bayangan yang hanya kau pandang tak bisa kau sentuh”. Dan getaran itu kembali menjawab, “Aku cinta, Perempuan. Itu pesanku untukmu, sebuah keinginan untuk bertemu. Membuatku tak pernah jera mengganggu malam-malammu. Tidakkah kau sadari kehadiranku?”.

Semakin meradang, yang dirasakan Perempuan hanya rasa takut. Walaupun Perempuan tahu bahwa Lelaki akan bisa menjaganya dengan hati-hati tapi Perempuan tidak pernah tahu, apakah Lelaki akan memandangnya dengan cara yang sama, seperti Perempuan akan melihatnya dengan mata itu, mata yang mencair kristal bekunya, dan mulai berpijar kembali dalam bara.

Perempuan mencoba, memilih meredam ledakan itu sendiri. Maka digenggamnya kembali kata-kata cinta itu, disimpan dalam peti batu, terkubur diam di kedalaman dunia, dan hanya akan tersenyum saja jika bertemu kembali dengan Lelaki. “Itu akan lebih baik”, pikirnya. Pilihannya, untuk hanya menyimpan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s