ADA APA DENGAN MATI?

Kadang gue nemuin kata-kata atau pertanyaan-pertanyaan kayak “Kapan ya aku mati?” atau “I hope I will die soon” dll dll, tentunya di berbagai wacana orang lain. Gue lebih banyak ditemukan garuk-garuk pala doang dalam menyikapinya, atau nyengir, atau komentar basi kayak “Basi.” ;p

But sumtimes hal-hal seperti itu juga menghampiri gue. Mungkin ketika gue terlalu lama berdiam diri, ketika banyak hal yang ingin kamu keluarkan dan bicarakan tapi nggak bisa (shitly capek loh), atau justru ketika kemarahan dasyat baru saja mereda 🙂 dan kadang gue nggak tau alasannya apa. Atas dasar mood nggak jelas itulah, I hope I will understand then, why some of that people, or some of you maybe, berharap-harap cemas ’bout your death. But most of all, gue ngerasain kegelisahan itu ketika menurut gue, nggak ada apa-apa *nyengir*.

Apa justru itu ya? Justru karena terlalu flat? Ingat, lipan hidup di tempat lembab dan gelap seperti di…bawah ubin, datar-datar membahayakan, dingin-dingin mencekam *halah*. Sesuatu yang datar ternyata tidak terlalu sederhana. Maybe you just wanna end up with sumthin, ingin selesai ber-dealing. Hanya ingin berhenti.

Ah dan ditilik dari pengertian nothing gue tentang agama, bahwa mungkin itu cuma syaithon nirrojim yang kegirangan ngeliat kita capek hati pikiran dan bengong nggak jelas, lalu menjalankan niatnya, memberikan sugesti-sugesti bosan hidup pada umat manusia. Kalau saya termasuk manusia yang tergoda tak? Walau separuh -noid, ya, gue termasuk manusia juga, yang dengan kerendahan hati masih nggak bisa berjauhan dari godaan setan dan kroni-kroninya.

But again, kalau jalan “berhenti” itu hanya mati, terus abis itu apa? I’m still not sure anymore about death, today or even two years again. I’m dead already, anyway.

Oh, hasil iseng-iseng hore. Ini urutan pilihan hewan-hewan gue untuk tes kecil psikologi: Macan, kuda, sapi, kambing, babi. Gue bikin pertimbangan urutannya dari yang paling memungkinkan untuk membela diri, ke gede-gedean/tinggi-tinggian/gagah-gagahan, trus dicampur ke urutan dari yang paling gue suka ke yang paling nggak (begitu) gue suka. Jadi kalo kembali diurutkan, itu akan menjadi…hmmm: Harga diri, keluarga, karir, cinta, kekayaan. Gue bingung kenapa cinta bisa ada di urutan ke-4? Apa gue mulai nggak seperduli itu terhadap cinta? Gue nggak terima haha.

Yuk ah 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s