YANG INI JUGA KOMODITI?

listen: Texas – In Demand

Pernahkah kau rasakan, rasa yang teramat sakit di dadamu? Membuatmu ingin menusuknya sekali, dua kali, terus berkali-kali, sampai sakitnya reda atau bahkan menghilang sama sekali? Sampai tanganmu bahkan tak dapat bergerak lagi?

Baru kusadari bahwa 50% hidupku dihabiskan untuk melek di depan komputer, melakukan apapun yang sedikit penting ataupun sangat tidak penting. Dan 20% dihabiskan untuk menjalani formalitas sehari-hari. Lalu sisanya hanya untuk menangis di malam hari and wake up with robotnic muscles yang sudah ter-setting sedemikian rupa untuk bangun mendadak, jauh sebelum embun pagi turun. Then in the morning, everybody will can see your juggling head, insomniac eyes, dan seperti tidak ada darah di bawah kulit wajahmu. Gelisah nggak pernah berhenti. Di depanmu hanya hembusan nafas resah, dan slide-slide per mili second yang terlalu cepat buatmu. Yea you give them couples of your silent sigh, hasil dari kekagumanmu terhadap panorama. Memberi senyum ke siapapun yang berpapasan denganmu. But what do you expecting actually? A normal life? Good grief girl, just see your face in that mirror. Your damn face. Right, damn it.

Sebenarnya, apa arti ironi? Bagian mana yang patut dikasihani tentang betapa ringkihnya diri, pada hal-hal seperti ini?

Apakah akan lebih mudah jika cinta merupakan sebuah kurs, catatan kecil yang hilang dari nilai tukar rupiah. Jika cinta juga merupakan pasar modal, saham dan asuransi? Atau di saat ini, hal itu sudah dikategorikan sebagai hi-risk things, atau extrem sport? Atau jika hal itu hanya sebongkah gula yang habis dikerumuni semut…

Sayang sekali kalau begitu. Mungkin kurs rupiah akan anjlok karena saya. Lagipula, saya phobia ketinggian dan tempat sempit. Semut bahkan tidak mengerumuni cinta, walaupun rasanya mungkin lebih manis dari madu dan racun dunia manapun (walau semut ada atas dasar cinta). And thanks God gula masih ada bentuknya, dan saya yakin kalau dimasukkan beberapa bongkah ke dalam teh, air teh saya pasti akan manis rasanya, bukan asin atau pahit, pun kalau gula itu sudah kadaluarsa (saya sudah pernah merasakannya).

Goodbye love.
See you when I see you.
Dan silahkan sakiti saya lagi jika saatnya tiba.

Bitch.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s