CURIOSITY GOES DOWN

Waw, mungkin rasa penasaran terkadang benar-benar seperti pijar api yang terpercik air ya, ‘plentas-plentus’ sebentar lalu hilang karena kalah dong tu air seciprat dua ciprat dibandingin pijar apinya.

Terlihat pada Nindi nih. Hari Kamis minggu lalu, setelah batuk ‘ngekel’ ngalahin nenek-nenek dan dibuntuti sama sesak nafasnya, aku bawa dia ke dokter, dokter suggest dicari penyebabnya setelah aku cerita kalau batuknya Nindi kambuhan banget.

OK para emaks, anak kecil katanya biasa batuk-pilek, tapi gua kasian, buntut sesek(asthma)nya itu loh. So…Nindi harus terapi uap 5x plus disinar *glek*, jadi mulai hari Jum’at-Sabtu-Senin-Selasa-terakhir Rabu, lalu observasi alias kontrol lagi ke bu dokter, kalau OK nggak usah rontgen, kalau nggak OK, anakku harus dirontgen *memandangi isi dompet yang 4 hari lalu masih penuh dan hari ini isinya tinggal 2 lembar*. Ngeeeng…Sebenernya perhatian akhir aku itu justru ke proses Nindi berobat, setelah diyakinkan nggak bakalan disuntik ;p dia OK berangkat uap hari Jum’at, dan dieeemmm aja sepanjang jalan -lebih mirip tegang karena belum pernah-, selama terapi, sampai pulang ke rumah. Hari ke-2 mulai PW, duduk selonjor, nafas santai malah terlalu dalam tarik nafasnya -gue takut dia keselek-, diajak ngobrol merespon dengan baik, semua intruksi diikuti dengan seksama, bahkan waktu disuruh batuk pas dengan hitungan terapisnya.Hari Minggu tutup, jadi nggak kesana, Senin terapi ke-3. Dia dateng buka pintu sendiri, terapisnya sudah ‘jadi temen’, ngobrooolll terus, tanya-tanyaaa terus, segala botol, lampu, ditanyain sama dia “Itu apa tante?” tante jawab “Itu lampu”, Nindi jawab lagi “Lampunya banyak ya tante” tante pun tak bisa berkata-kata cuma nyengir >_<Hari ke-4, “Nindi nggak mau diuap!” tweeewww…tapi berangkat juga, walhasil ngoceh terus, kaki bersila di atas kursi, ngeluh panas sepanjang penyinaran *emang panas sih tapi dia nggak pernah ngeluh biasanya*, ngutak-ngatik masker yang lagi dia pake sampe terus-terusan melorot. Gua? Pulang kerja, minum nggak sempet, waktunya mepet terus, rasanya badan setipis daon, ketiup angin bisa terbang sampai Antambua.Hari ke-5…mepet, akhirnya eyang papa sama Nindi ketemuan langsung sama aku di perapatan dan langsung ciao ke terapis, Nindi langsung declair something “NGGAK MAU UAP!”. Ya’olo itu baju masih bau sarang kecoa *sumpah gua tau baunya*, tas masih ngeplek di pundak, jangankan sampai Antambua, daon yang ini tipisnya bisa buat latihan lempar pisau Shaolin Master *lebay*. Nindi? Doi resek seresek-reseknya, super ribet. Ngambek berat. Bener-bener maunya dicopot terus maskernya, dan dia mogok tarik napas, terlihat dong dari asep yang ngepul nutupin mukanya (kalo dihirup kan nggak sampe ngepul begitu). Tapi semua terlewati dengan lancar, apalagi pas dapet pesawat kertas yang harus dirakit sendiri hahaha, dasar si bontot!See? Curiosity terkadang hanya percikan air nyasar ke pijar api. Tapi dia jadi tau kapan harus nyalain dan matiin mesin nebulizernya, nggak cuma asal pencet, dan dia bisa ngomong -sambil pegang dadanya- “Panasnya udah nih tante, selesai nih kayaknya” ngoahahaha, sotoy abis anakkuh. Jadi sekarang, habisin obat yang masih nyisa, terus kontrol ^_^Tinggal bunda deh melirik histeris ke dalam dompet…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s