MY MOM GOT PLANE TO CARACAS

Gue belum pernah naik pesawat.

Eh…wait, udah pernah ding, seperti mimpi yang agak butek, selalu ada ingatan tentang sebuah jendela kecil dan awan-awan, lalu seseorang menunjuk sambil bilang “Mita, Mita, lihat jendelamu, tuh, awannya, banyak ya?”. Setelah dikonfirmasi, memang benar, waktu masih teramat kecil namun cukup untuk bisa dapat kursi sendiri, Eyang pernah ajak gue naik pesawat. So vintage memory, with all of that browny palette color in my head slides.

Beberapa kali sudah gue pergi ke beberapa bandara di pulau Jawa, walau bukan gue yang pergi atau datang, namun rasa-rasanya bandara adalah hal yang ‘terus-terusan’ menarik untuk dikunjungi. Hanya kemarin malam rasanya berbeda, karena yang diantar pergi adalah Mamah. Kemana memang Mamah pergi? Cuanto tiempo tarda?

Mamah akan menetap selama 2 tahun di ujung utara Amerika Selatan; di ibukota dari República Bolivariana de Venezuela (Venezuela), Caracas. She never have been gone further than go to Malang city at East Java, Indonesia wich needed at least a half untill a day with a fast train to reach it, atau bahkan 2 jam lebih dikit dengan pesawat. Penerbangan ke Venezuela mungkin butuh berkali lipatnya. Setelah 8 jam penerbangan, Mamah mungkin akan transit di Doha atau Roma dan bermalam sehari, lalu melanjutkan kembali selama kurang lebih 8 jam berikutnya hingga Venezuela.

Ket. gambar: Roraima Mountain, Venezuela. Cantik ya? Sir Arthur Conan Doyle sudah pernah ‘manjat’ kesana 🙂 Gue udah lama simpan fotonya yang berkabut itu on my Pinterest, keren banget, sekarang liatnya bener-bener nggak nyangka bahwa memang ada rahasia di balik rahasia.

What kind of country Venezuela is?

Bahasa yang dipakai adalah bahasa Spanyol. Dalam bahasa ini yang gue tau cuma “Ya” dan “Si” alias balik lagi ke yes-no yes-no, ini pun karena waktu kecil suka baca-baca serial detektif (isi pengetahuannya random) and thanks to Dora the Explorer, juga Ricky Martin >_<. Jangan lupa juga dengan kata “Gracias” karena menurut gue “Terima Kasih” adalah satu-satunya bahasa universal yang paling penting 🙂 yea right, tunggu sampai lo kebawa nyasar disana dan lo cuma bisa bilang “Gracias, gracias, gracias” ke sopir taxi…

Caracas sendiri sebenarnya beriklim subtropical, jadi hanya punya musim kemarau dan musim hujan, jadi Mamah sepertinya nggak usah terlalu khawatir nyeri di kakinya kambuh karena kedinginan.

Yang menarik, Venezuela punya beberapa tribe Indian with amazing culture as always, dan kalau gue liat sepertinya mereka nggak diintervensi kayak disini (seperti misalkan dipaksa pake baju, karena para perempuan suku asli/pedalaman umumnya masih bertelanjang dada). Venezuela juga masuk dalam daftar lima negara “Paling bahagia di dunia”, heu? Hibat, hibat! Gue harap kebahagiaan itu yang juga akan dirasakan Mamah selama disana.

Mamah menangis nggak berhenti waktu harus pamitan ke dua orang cucunya yang masih balita (Nindia yang 4 bulan lagi berumur 4 tahun dan Khanza yang 1,5 tahun), seperti suami dan anak-anak Mamah juga nggak berhenti menangis liat Mamah pergi, dalam hati maupun menangis dalam bentuk sebenarnya. Ngenes juga liat Nindi yang serta-merta meraung-raung duluan di gate dan nggak mau salim sama Eyangnya karena ngambek Eyangnya mau pergi, “Mamah nggak boleh ke Emirika!” katanya.

Gue nggak ‘meminjamkan’ Mamah, karena Mamah bukan barang, gue membiarkan Mamah melakukan perjalanan karena gue percaya setiap orang harus melakukan.

Anak-anak dari seorang Ibu akan selalu menangis ketika Ibu tak bisa lagi kita towel dan gelendotin karena Ibu tak lagi sedang dekat fisiknya dengan anak, dan hati Ibu seakan direjam berbilah pisau kalau tak bisa dekat dengan anak, tapi hati anak juga yang akan tersenyum ketika seorang Ibu menginginkan sesuatu dan terwujud. Seperti juga sebaliknya, Ibu mana yang tak girang lihat anaknya terkabul keinginan baiknya?

Kita anak-anak Mamah sudah puluhan tahun dirawat Mamah, dan mungkin sekarang saatnya Mamah memiliki waktu untuk Mamah sendiri. Di masa depan, insyaAllah anak-anak Mamah yang akan merawat Mamah. Doain kita ya Mah.

Mamah: “Terus gue didoain ga?”

Itu sih otomatis Mah 😀

Dan entry ini panjang ngomongin macem-macem, karena kemampuan gue untuk pura-pura nggak sedih kalau pulang kantor nanti Mamah nggak lagi nongkrong di kursi favoritnya untuk gue tanya pertanyaan yang sama setiap masuk rumah sambil celingukan: “Pada kemana orang-orang!?”

Advertisements

2 comments

  1. Bitch, The · January 31, 2013

    heh! Paus Antartika! paraparaparapa! =P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s