TEPO SELIRO; TOLERANSI SEKITAR DAN BUMIL SEISINYA

Ada satu lagi yang ramai dibicarakan beberapa hari ini, mengenai komentar seorang perempuan mengenai ibu hamil yang (menurutnya) minta tempat duduk di KRL. Nggak tau bagaimana jalan pikirannya…tapi kalau bisa membantu mbak yang komentarnya ‘aneh’ itu, saya juga akan sedikit share mengenai kehamilan anak pertama saya.

Waktu hamil Nindi, alhamdulillah saya tidak diberikan kesulitan yang berat. Semuanya standar, emosi memang sulit terbendung tapi tidak ngidam aneh-aneh (hanya jadi tidak suka nasi) maupun merasakan mual dan pusing-pusing sama sekali kecuali waktu baru pertama kali merasakan tanda-tanda kehamilan. Bahkan masih turun naik tangga bantu si mamah jagain lapak soto di kantin karyawan sebuah brand supermarket besar yang ada di dalam mall dekat rumah, disana saya melayani pembeli karyawan yang sekali keluar bisa 150an orang + angkut dan cuci piring bertumpuk-tumpuk dibantu hanya 1 orang karyawan, setiap hari hingga kandungan masuk awal bulan ke delapan.

A gift...

A gift…

Tapi bukan itu juga yang ingin saya share, asal tau saja, ibu hamil apalagi sudah mulai membesar kandungannya, SUMPAH DEMI ALLAH, duduk pun tidak nyaman. Serba salah betul deh: duduk tidak nyaman (kalau kelamaan duduk tumit jadi sakit dan untuk berdiri jadi sulit sekali) tapi berdiri terlalu lama juga tidak kuat, kalau diam saja kaki menjadi bengkak tapi mau jalan-jalan terus juga tidak kuat jauh. Buang air kecil atau besar, jongkok dan duduk sama ribetnya. Tidur hadap kiri-kanan dan telentang super tidak nyamannya, tengkurep atau tiarap juga nggak mungkin *dezigh*. Jadi jangan dipikir kita minta duduk biar enak, nggak.

Tapi sama dengan bunda Iin di dalam tulisannya, walau mengandung saya tidak berusaha melemahkan posisi saya sebagai perempuan yang terbiasa mandiri, sehingga akhirnya hanya bisa mengurut dada kalau tidak dapat tempat duduk di kendaraan umum (ketika tak ada orang yang berinisiatif untuk memberikan bangku kosong). Hanya saja menurut saya, ibu hamil, manula, balita, dan teman-teman berkebutuhan khusus di masyarakat manapun selalu memiliki tempat terutama (maaf para pemuda tampan, bukannya kami tidak cinta). Tanpa ingin merasa diistimewakan, bukannya tempat duduk itu harusnya tidak perlu diminta? Bukankah nurani harusnya sudah otomatis berjalan tanpa diminta?

Tapi alhamdulillah, waktu itu saya dipenuhi banyak empati, simpati dan kasih sayang dari sekitar yang perduli pada ibu hamil, bahkan kenek angkot pun bisa urun suara nyuruh supirnya sabar untuk urusan bumil yang naik angkotnya ngeja, alias nggak bisa langsung menclok gitu aja. Juga karyawan satu-satunya di lapak sato yang heboh protektif dan ngeri setiap bolak-balik saya menolak bantuannya untuk membawakan tumpukan piring kotor ke tempat cuci, “Mbak, bisa jantungan saya” katanya, saya cuma bisa balas “Shhh, berisik, jangan bilang-bilang ibu ya” hahaha. Mereka bisa dibilang bukan saudara sedarah, tapi mereka mampu menunjukkan sesuatu yang baik dan harus untuk dilakukan. Itu yang paling penting.

Saya amat beruntung saat itu, amat bersyukur, dan saya anggap itu sebagai rejekinya anak saya. Rasa syukur itu yang coba saya lanjutkan pada anak saya, dengan sedari sekarang belajar memahami tepo seliro, tenggang rasa, bergotong royong, yang juga pernah diajarkan saya sejak entah kapan dan oleh siapa saja, yang ternyata membekas. Dari satu untuk satu orang lainnya, dari orang lainnya untuk orang lainnya lagi, begitu seterusnya hingga seluruhnya.

Dear bu ibu, dear dek adek, dear bumil, dear eneng dan embak yang di pojokan sana, dear…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s