TANGAN KECIL DI BAHUKU

Kupikir aku selalu cukup kuat.
Tapi sampai tadi pagi mata ini bocor terus-menerus tanpa diminta sejak kemarin sore. Tapi dengan congkak aku pun masih merasa bisa pasang badan menantang dunia haha, “Biar kuhadapi sendiri seakan Ultraman, tinggal jadi besar aja dan beri serangan sinar ke arah monster” pikirku, hingga…kulihat makhluk mungil ini terbangun dari tidurnya, berjalan menghampiri sambil mengusek-ngusek mata, minta dimandikan takut terlambat ke sekolah.

Lalu, yang kuingat hanya tatapan matanya membalasku dan kata “Maafin bunda ya kak” yang keluar dari mulutku, sebelum tangisku pecah dan aku tersedu-sedu dalam pelukan kecilnya. Tangan kecilnya melingkar di pundakku sambil berkata “Jangan nangis bunda” sambil ikut juga menangis.

Kamulah tiang hidup itu sesungguhnya nak, yang menguatkan orang-orang sepertiku. Dunia terbuat dari tepung, telur, dan mentega, jika dipanggang dengan tepat, harumnya akan memenuhi seluruh ruangan di jagad raya ini. Mungkin bunda kurang bisa memasak, tapi ma’af untuk pagi ini. Terima kasih mau meluangkan waktu mandinya 10 menit untuk berpeluk-pelukan dan duduk berdua bunda di tangga yang gelap itu, ayo susunya dihabiskan dulu 🙂

TEPO SELIRO; TOLERANSI SEKITAR DAN BUMIL SEISINYA

Ada satu lagi yang ramai dibicarakan beberapa hari ini, mengenai komentar seorang perempuan mengenai ibu hamil yang (menurutnya) minta tempat duduk di KRL. Nggak tau bagaimana jalan pikirannya…tapi kalau bisa membantu mbak yang komentarnya ‘aneh’ itu, saya juga akan sedikit share mengenai kehamilan anak pertama saya.

Waktu hamil Nindi, alhamdulillah saya tidak diberikan kesulitan yang berat. Semuanya standar, emosi memang sulit terbendung tapi tidak ngidam aneh-aneh (hanya jadi tidak suka nasi) maupun merasakan mual dan pusing-pusing sama sekali kecuali waktu baru pertama kali merasakan tanda-tanda kehamilan. Bahkan masih turun naik tangga bantu si mamah jagain lapak soto di kantin karyawan sebuah brand supermarket besar yang ada di dalam mall dekat rumah, disana saya melayani pembeli karyawan yang sekali keluar bisa 150an orang + angkut dan cuci piring bertumpuk-tumpuk dibantu hanya 1 orang karyawan, setiap hari hingga kandungan masuk awal bulan ke delapan.

A gift...

A gift…

Tapi bukan itu juga yang ingin saya share, asal tau saja, ibu hamil apalagi sudah mulai membesar kandungannya, SUMPAH DEMI ALLAH, duduk pun tidak nyaman. Serba salah betul deh: duduk tidak nyaman (kalau kelamaan duduk tumit jadi sakit dan untuk berdiri jadi sulit sekali) tapi berdiri terlalu lama juga tidak kuat, kalau diam saja kaki menjadi bengkak tapi mau jalan-jalan terus juga tidak kuat jauh. Buang air kecil atau besar, jongkok dan duduk sama ribetnya. Tidur hadap kiri-kanan dan telentang super tidak nyamannya, tengkurep atau tiarap juga nggak mungkin *dezigh*. Jadi jangan dipikir kita minta duduk biar enak, nggak.

Tapi sama dengan bunda Iin di dalam tulisannya, walau mengandung saya tidak berusaha melemahkan posisi saya sebagai perempuan yang terbiasa mandiri, sehingga akhirnya hanya bisa mengurut dada kalau tidak dapat tempat duduk di kendaraan umum (ketika tak ada orang yang berinisiatif untuk memberikan bangku kosong). Hanya saja menurut saya, ibu hamil, manula, balita, dan teman-teman berkebutuhan khusus di masyarakat manapun selalu memiliki tempat terutama (maaf para pemuda tampan, bukannya kami tidak cinta). Tanpa ingin merasa diistimewakan, bukannya tempat duduk itu harusnya tidak perlu diminta? Bukankah nurani harusnya sudah otomatis berjalan tanpa diminta?

Tapi alhamdulillah, waktu itu saya dipenuhi banyak empati, simpati dan kasih sayang dari sekitar yang perduli pada ibu hamil, bahkan kenek angkot pun bisa urun suara nyuruh supirnya sabar untuk urusan bumil yang naik angkotnya ngeja, alias nggak bisa langsung menclok gitu aja. Juga karyawan satu-satunya di lapak sato yang heboh protektif dan ngeri setiap bolak-balik saya menolak bantuannya untuk membawakan tumpukan piring kotor ke tempat cuci, “Mbak, bisa jantungan saya” katanya, saya cuma bisa balas “Shhh, berisik, jangan bilang-bilang ibu ya” hahaha. Mereka bisa dibilang bukan saudara sedarah, tapi mereka mampu menunjukkan sesuatu yang baik dan harus untuk dilakukan. Itu yang paling penting.

Saya amat beruntung saat itu, amat bersyukur, dan saya anggap itu sebagai rejekinya anak saya. Rasa syukur itu yang coba saya lanjutkan pada anak saya, dengan sedari sekarang belajar memahami tepo seliro, tenggang rasa, bergotong royong, yang juga pernah diajarkan saya sejak entah kapan dan oleh siapa saja, yang ternyata membekas. Dari satu untuk satu orang lainnya, dari orang lainnya untuk orang lainnya lagi, begitu seterusnya hingga seluruhnya.

Dear bu ibu, dear dek adek, dear bumil, dear eneng dan embak yang di pojokan sana, dear…

Our Tama-Go: Shogo & Mimi

PERPISAHAN DENGAN SHOGO DAN MIMI

Ehem, aku dan Nindi sebenarnya sempat punya Tamagotchi >_<
Jenisnya adalah Tamagotchi Connection V7, atau Tamagotchi TamaTown, atau lebih padat lagi cukup: Tama-Go.

Bukannya karena nggak bisa move on atau susah grow up hahaha, memang nekat punya awalnya karena bernostalgia, dan pengen anak seneng. Mudah juga kok mainnya. Sekalian mengobati kekecewaan Nindi juga yang bolak-balik binatang peliharaannya…kalo nggak keburu kelenger ya dipindah ke tempat lain karena nggak cocok hidup di tempat tinggal kita yang tidak ada lahan untuk binatang peliharaan, kecuali: ikan super ketjil, kura-kura super ketjil, burung super ketjil, sama klomang/keong pasar malem yang biasanya memang sudah super ketjil hihihi ;p

Si Shogo-nya nda, dan Mimi-nya Ndi...

Si Shogo-nya nda, dan Mimi-nya Ndi…

Tapi Tama-Go ini walau penampakannya sumpah lucu banget (karena ada figur yang menclok di bagian atasnya buat unlock game khusus di dalam tama-nya) memang bentuk dan dimensinya hampir mirip telur ayam (yang baru disadari setelah barang sampai). Nindi bisa pegangnya tapi tetap agak ribet meng-handle, berbeda dengan tamagotchi versi lain yang lebih imut karena ternyata yang ini bukan produksi Bandai untuk pasaran di Jepang tapi untuk pasaran US (Bandai US). Emaknya si Nindi pun keburu ngelirik versi lain nih, namanya Tamagotchi P’s tapi karena harganya masih ajugile…gua ogaaahhh hahaha not now, gapapa ya Ndi, kita nabung dulu.

Tapi ngapain sih lo mak, ikutan beli? Anak lo aja doang yang dibeliin kali…
Lagi-lagi alasan pertama nostalgia. Yang kedua karena tamagotchinya tipe yang ‘connection’, jadi kasian kalo mainnya cuma sendiri, karena kalau ada 2, nanti tamagotchi ini bisa saling berinteraksi soalnya dia dianugerahi oleh penciptanya *hadeuh* fitur infrared yang bikin satu sama lain bisa terkoneksi. Ya…maen ke taman bareng, saling mengunjungi, bertukar hadiah, masak bareng, malah kalau yang satu perempuan dan yang satu laki-laki, nanti mereka bisa…bisa…bisa merit…hiyaaahhh!!! Tapi nggak pakek porno-porno loh ya hauhauhu.

Ntar anak lo nggak jamak kehidupan nyata loh mak, virtuaaalll melulu!
Lailah, ya didampingin dong maaaks, jangan dibiarin aja sendirian, yang beginian mah buat di sela-sela hari membosankan aja. Tapi memang ngangenin loh tama ini, sebentar-bentar dicek sama Nindi, sudah makan belum, pup atau nggak, dll dll ihihihi, serius banget lagi mukanya, jadi lucu dan gemes liatnya.

Walaupun begitu, ternyata Nindi juga harus belajar berpisah 🙂
Walau sedih, dan kadang berubah pikiran lagi, akhirnya Nindi pun rela tamanya berganti kepemilikan (awalnya karena tau mau diniatin beli si P’s tadi: sabar kak, bunda pasti beliin).

Selamat tinggal Shogo dan Mimi.
Yang betah di tempat yang baru ya 🙂
xo.

MORNING AWAKENESS

Dear Nindia,
Mungkin akan bijak jika bunda mulai menulis untuk kamu.
Pagi ini bunda merasakan kesedihan yang mendalam, memunculkan banyak sekali pertanyaan, dan salah satunya adalah…

Apakah definisi dari kesombongan?

Jika suatu saat kamu sudah mampu memberikan pertanyaan yang sama. Mungkin bunda masih akan menjawabnya dengan jawaban yang sama.

Definisi dari kesombongan adalah tidak mengakui adanya rahasia-rahasia yang tidak akan Tuhan bagi pada manusia. -muntahkata

SEJAK SANG LASKAR PELANGI HENDAK MENGGUGAT BLOGGER

Orang bijak harus ‘maksud’ sama kritik yang ditujukan baik pada dirinya maupun pada apa yang dihasilkannya. Seseorang memang berbeda cara-caranya menikmati sekotak coklat ya, apalagi mungkin bagi yang jarang dan belum pernah nyicip sebelumnya.

Apa yang ditulis oleh bungmas Irwan Bajang di websitenya (“Andrea Hirata, Distorsi Sikap dan Informasi“) semoga dapat menjadi suplemen begi (mungkin) sejuta lebih populasi penulis di negara ini. Hihi, puas rasanya baca review kritik yang al dente, seperti pasta pedas bikinan Mamah saya -atau “Ctarrr!” kata Syahrini mah.

Namun jujur untuk segenap diri *perlahan menundukkan kepala*, saya belum pernah membaca tulisannya Andrea Hirata (Laskar Pelangi dan seterusnya). Saya percaya TERKADANG sebuah buku memilih pembacanya, mungkin Laskar Pelangi pun begitu (jangan-jangan cuma ke saya).

ntf: Ini bukan kritik tentang tulisan Andrea Hirata tapi tentang klaim dan ketidakjujuran dalam strategi pemasaran karya-karyanya. More about attitude.