HUTAN-HUTAN YANG TERPENJARA

Masyarakat adat merawat hutan-hutan itu tidak barusan, itu terjadi sejak puluhan bahkan ratusan tahun lebih. Mereka jaga ekosistem dan keseimbangannya bukan hanya untuk mempertahankan kehidupan dan penghidupan mereka. Yang paling terutama, mereka menghayati betul apa fungsi hutan itu bagi keseluruhan (berarti tidak hanya manusia). Apapun yang tersimpan di bawahnya, di atasnya, di sekelilingnya, melimpah ruah karena memang dirawat betul, dan karena memang HARUS dirawat, dan yang merawat…tidak serakah. Mereka hanya…paham. Yaaa seperti pasangan suami-istrilah, yang katanya romantisme sepanjang hayat, yang katanya saling mengisi, yang katanya saling melengkapi, saling setia dan sayang menyayangi, yang katanya memiliki persamaan dan berjuta perbedaan tapi tetap satu jua, yang katanya hubungan batinnya lalu menjadi satu vertikal-horizontal dalam kontrak sekali seumur hidup selamanya? *eh kok kayak curhat ini

Bagaimana kalau suatu hari tiba-tiba hutan bisa mungut bayaran? Nahloh, repot koen ndes. Tanah kuburanmu bisa lebih mahal loh nanti.

Adalah fungsi dan keberadaan kita awam ini, yang kemudian harus mulai dipertanyakan :V Lha, memang.

Advertisements

MENGUNYAH DUNIA

sarah-bowie-daily-crumbs

Kebendaan. Duniawi.
Nafsu.

Kata “pamer” kudengar pertama kali di kelas 3 SD. Aku membawa pensil mekanik bergambar lucu dan seorang anak laki-laki mulai mengata-ngatai aku tukang pamer. Aku tidak tahu artinya tapi hati berkata kalau itu adalah panggilan yang jelek dan aku mulai marah. Pertengkaran kami berakhir dengan aku yang meringkuk kesakitan di lantai, sulit bernafas kena tendangan keras di ulu hati (yang dulu juga belum ku tahu mengapa rasa sakitnya sedahsyat itu). Sampai hari ini…hanya beberapa hal, sedikit, mungkin terhitung dengan jari tangan saja yang dapat kuingat sepanjang masa kecilku di Jakarta, salah duanya ya tendangan itu, dan ingatanku bahwa barang baru nggak boleh diberi tahu ke teman-teman.

Ketertarikanku pada kebendaan dimulai sejak hampir melewati masa SD. Aku bukan anak yang mudah bermewah-mewah. Selain memang tidak bisa ya juga karena memang tidak tahu. Lalu aku mulai melihat benda-benda yang memukau: jepit rambut, gelang manik anak perempuan, stiker, mainan mahal, dan segala hal yang setelah beberapa kali coba merengek minta dibelikan lalu tidak dikabulkan…ya rengekan itu mereda sendiri. Tapi rasa ‘ingin’ itu tak pernah berhenti. Aku tahu…mungkin tanteku harus beberapa kali menenangkan sepupuku yang pasti ribut dan sedih kehilangan jepit rambutnya, atau selembar stikernya, atau pernik kecil lain. Lalu keinginan itu berhenti begitu saja. Pendek seperti hidup ngengat tapi bersiklus dan mulai lagi saat aku di SMA dan kampus.

Aku hobi olahraga. Walau tinggi tubuh tidak menunjang, aku aktif di tim basket sejak SMP. Aku bisa seenaknya melangkahi gerbang sekolah A, B, C, dst dan disapa banyak orang juga karena basket. Di SMA aku mengenal kata baru “minder”. Banyak kawan tapi tetap minder, dilematis, ironis, nggak jelas, salah satu yang harus siap kuhadapi ketika masa remaja tiba. Siapa yang nggak kenal Mita si tukang pinjam sepatu. Sepatuku nggak bermerk. Dipakai basket lama-lama bawahnya somplak. Naksir cowok tapi kok keren banget anak orang kaya lol (apa deh ini nyempil disini). Ada saja hal yang bikin tambah minder. Yang herannya, aku tidak pernah berusaha minta atau membicarakan hal ini ke orangtua. Aku mulai menciptakan penghalang. Yang mungkin sebenarnya sudah ada sejak lama. Aku tinggal menumbuhkannya saja. Aku ingat waktu sepupuku memiliki komputer, dan kadang-kadang aku ikut bermain game disana, DOS >_< pada suatu hari bapak tiba-tiba bertanya, “Mit, kamu mau komputer?” Tanpa berpikir aku jawab “Nggak” (lebih karena aku sadar betul akan seberapa keras bapak harus mengumpulkan uang sebanyak itu). Dan aku meyakini bahwa sejak hari itu aku tidak suka komputer, I don’t need them pikirku, dan aku memang menjadi cuek saja. Kawan yang kenal aku sekarang pasti berpikir mungkin saat itu aku lagi nggak waras. Penghalang itu makin tinggi.

Lulus SMA aku keluar dari rumah. Banyak yang kuhadapi. Aku senang hidup menyendiri, selalu menolak pulang tapi aku tidak pintar mengurus uang. Dari yang kadang bisa bertahan 2 hari tanpa uang, sampai mulai kenal berutang karena terkena pancaran kilau dunia internet lol (yang membawa aku kenal ‘kerja-kerjaan’ and things lalu memutuskan drop out dari kampus). Kebendaan, keinginan, datang lagi. Tambah parah karena kenal cinta. Sifatku yang ratu panik juga tidak membantu, utangku malah bertumpuk dan banyak yang tidak terbayar 😦 salah satu hal yang hingga sekarang membuatku layak untuk dijauhi, kehilangan banyak orang. Titik baliknya terjadi tahun 2013 lalu, saat-saat dimana aku melakukan beberapa hal paling tidak masuk akal (juga karena panik-panik nggak jelas), dari SMS sana-sini minta bantuan finansial sampai minta tolong dikreditin laptop untuk merintis usaha. Kalau bisa diulang pasti aku seperti melihat adegan possessed di film horor. Aku banyak kehilangan teman. Oh ya, aku kehilangan banyak. Belum malunya yang sudah tingkat dewa. How come? Bagaimana mungkin aku melakukan hal-hal itu pada diriku, pada semua? Apa yang terjadi? “Tuhan Kau harus tolong aku” dan lain sebagainya rebutan kusebut satu-persatu.

Hari ini kebendaan itu…bagaimana menjelaskannya ya…semua hal di atas tidak terjadi begitu saja, tidak ada peluru-peluru yang melesat tanpa trigger tapi akhirnya manusia harus sadar bahwa mereka adalah makhluk forgive and forget, bukan jenis pendendam yang lalu hidup saja dengan itu sampai akhir hayatnya. I just want to doing it right, live a happy thoughts, live a happy life. Aku juga tidak menyalahkan apapun, siapapun. Aku tidak lagi mencari alasan. AKU TAK LAGI MERASAKAN KEMARAHAN UNTUK TIDAK MENGUNYAH DUNIA.

Rasa marah sungguh liar, dia tak mau terikat, waktu juga tidak pernah memihaknya dan jejak yang ditinggalkan hanya sesal. Sedih masih kadang muncul sesekali, tapi bisa meresap kembali menjadi bahan bakar kesadaran. Bahkan saat ini aku mungkin mengerti apa yang dirasakan anak laki-laki yang menendang ulu hatiku itu, waktu aku memperlihatkan pensil mekanikku ke semua orang dan hanya aku yang punya.

Tak banyak orang paham, bahkan Nindia, kenapa bunda senang sekali menggandeng tangannya. Orang lain dan aku sendiri bisa mengukur anaknya dari seberapa banyak warna yang dipakai sewaktu menggambar, seberapa ramai kosakatanya sewaktu berbicara. Tapi terkadang aku cukup hanya tahu bahwa jari jemari…telapak mungil dalam gandenganku itu akan semakin membesar setiap tahunnya. Segelas teh hangat dan gesekan kaki di seprai menjadi sedemikian lebih berharga karena disana ada harapan, kecupan sayang, titipan keinginan, perkataan maaf, kesungguhan doa dan permohonan ampun.

Kebendaan. Duniawi. Adalah kekosongan. Retakan. Celah di antara jiwa dan badaniah yang sedang mencari jalan untuk pulang…