JENDELA ANTI-GRAVITASI

Jendela itu bernama hati.
Mungkin kisi-kisinya suram dimakan jaman.
Tak mengalami pembaharuan, cuma pengulangan dan random dengan cara-cara surealistik.
Belum lagi mengelupas disana-sini.
Bilahnya kadang ada, kadang setengah.
Nyamuk, kecoak, mungkin tikus dan gorila mampir pun sudah.

Dia tak bisa punah, tak bisa pudar, hanya menua.

Satu hari, jendela itu bisa terbuka lebar.
Atau separuh terbuka.
Atau tertutup diam dibungkam slot karatan.
Bisa jadi terlupakan untuk dibuka menyambut pagi dalam beberapa generasi.

Namun jendela adalah jendela.
Dan hati adalah hati.
Ada maknanya mereka dinamakan sedemikian rupa.
Dan dipertemukan dalam satu ruangan, di dalam sana.

Seandainya hati adalah wajah, jendela bisa jadi rupa.
Ketika hati surut, jendela berkeras sulit dibuka.
Ketika hati gembira ria, jendela mengibaskan tirai-tirainya.
Serupa rok renda musim panas para gadis lepas pantai beraroma kerang dan kulit kelapa.

Yang satu itu juga tak kenal musim.
Dia tak turut kawin ketika penghujan.
Dia tak lekas darah tinggi ketika durian berjatuhan.
Dia hanya selalu begitu, bebas lepas memainkan bagiannya.
Menjadi rupa dari hati yang jatuh cinta.
Kasmaran, lalu hilang arah…

ps: jendelaku terbuka menghadap laut lepas
dia hanya beribu knot angin yang memangsa layar
liar dan menyasar lambung kapal
dan aku di dalam terhempas terombang-ambing
melayang-layang seperti astronot di bintang jauh
kasmaran, lalu hilang arah
just a perfect tango in this life

TANGAN KECIL DI BAHUKU

Kupikir aku selalu cukup kuat.
Tapi sampai tadi pagi mata ini bocor terus-menerus tanpa diminta sejak kemarin sore. Tapi dengan congkak aku pun masih merasa bisa pasang badan menantang dunia haha, “Biar kuhadapi sendiri seakan Ultraman, tinggal jadi besar aja dan beri serangan sinar ke arah monster” pikirku, hingga…kulihat makhluk mungil ini terbangun dari tidurnya, berjalan menghampiri sambil mengusek-ngusek mata, minta dimandikan takut terlambat ke sekolah.

Lalu, yang kuingat hanya tatapan matanya membalasku dan kata “Maafin bunda ya kak” yang keluar dari mulutku, sebelum tangisku pecah dan aku tersedu-sedu dalam pelukan kecilnya. Tangan kecilnya melingkar di pundakku sambil berkata “Jangan nangis bunda” sambil ikut juga menangis.

Kamulah tiang hidup itu sesungguhnya nak, yang menguatkan orang-orang sepertiku. Dunia terbuat dari tepung, telur, dan mentega, jika dipanggang dengan tepat, harumnya akan memenuhi seluruh ruangan di jagad raya ini. Mungkin bunda kurang bisa memasak, tapi ma’af untuk pagi ini. Terima kasih mau meluangkan waktu mandinya 10 menit untuk berpeluk-pelukan dan duduk berdua bunda di tangga yang gelap itu, ayo susunya dihabiskan dulu 🙂

KABAR CINTA

Kita memang  bisa menemukan begitu saja telur-telur itu, telur dengan cangkang bertulisakan, ah lagi-lagi: AKU CINTA PADAMU. Tapi tak selalu harus kau hiraukan 🙂 mungkin saja di kanan bawah ada paraf kecil seseorang tanda kepunyaan, atau hanya issue invoice tahunan, hihihi…

YOU WILL BE FINE…

Alhamdulillah.
Hanya itu yang bisa kukatakan hari ini, dari dasar lautan hati yang paling dalam.

You will be fine...

You will be fine…

Tuhan tidak ingkar janji, Dia mungkin senang bercanda sedikit, sekedar menciptakan keharmonisan dalam hidup. Tetapi ketika kita mencoba mengerti bahwa memang batu yang pernah kita lemparkan, suatu hari akan kembali pada kita, baik itu untuk mengusir hal buruk ataukah kita sendiri hal buruk tersebut, rasanya hidup yang sulit ya akan tetap sulit tapi lebih mudah untuk dijalani. Depend on your choice.

So keep the good spirit going. Jadi jika tetap pada tracknya, dia pasti on time, tapi akan berlalu begitu saja, but you will be fine, I think. Dan kalau mau belok sana-sini sedikit, atau berhenti sebentar, ya mungkin akan menempuh jarak lebih jauh, but you’ll be fine too, why not? Dan batu itu akan kembali bukan untuk melukai kita.

TEPO SELIRO; TOLERANSI SEKITAR DAN BUMIL SEISINYA

Ada satu lagi yang ramai dibicarakan beberapa hari ini, mengenai komentar seorang perempuan mengenai ibu hamil yang (menurutnya) minta tempat duduk di KRL. Nggak tau bagaimana jalan pikirannya…tapi kalau bisa membantu mbak yang komentarnya ‘aneh’ itu, saya juga akan sedikit share mengenai kehamilan anak pertama saya.

Waktu hamil Nindi, alhamdulillah saya tidak diberikan kesulitan yang berat. Semuanya standar, emosi memang sulit terbendung tapi tidak ngidam aneh-aneh (hanya jadi tidak suka nasi) maupun merasakan mual dan pusing-pusing sama sekali kecuali waktu baru pertama kali merasakan tanda-tanda kehamilan. Bahkan masih turun naik tangga bantu si mamah jagain lapak soto di kantin karyawan sebuah brand supermarket besar yang ada di dalam mall dekat rumah, disana saya melayani pembeli karyawan yang sekali keluar bisa 150an orang + angkut dan cuci piring bertumpuk-tumpuk dibantu hanya 1 orang karyawan, setiap hari hingga kandungan masuk awal bulan ke delapan.

A gift...

A gift…

Tapi bukan itu juga yang ingin saya share, asal tau saja, ibu hamil apalagi sudah mulai membesar kandungannya, SUMPAH DEMI ALLAH, duduk pun tidak nyaman. Serba salah betul deh: duduk tidak nyaman (kalau kelamaan duduk tumit jadi sakit dan untuk berdiri jadi sulit sekali) tapi berdiri terlalu lama juga tidak kuat, kalau diam saja kaki menjadi bengkak tapi mau jalan-jalan terus juga tidak kuat jauh. Buang air kecil atau besar, jongkok dan duduk sama ribetnya. Tidur hadap kiri-kanan dan telentang super tidak nyamannya, tengkurep atau tiarap juga nggak mungkin *dezigh*. Jadi jangan dipikir kita minta duduk biar enak, nggak.

Tapi sama dengan bunda Iin di dalam tulisannya, walau mengandung saya tidak berusaha melemahkan posisi saya sebagai perempuan yang terbiasa mandiri, sehingga akhirnya hanya bisa mengurut dada kalau tidak dapat tempat duduk di kendaraan umum (ketika tak ada orang yang berinisiatif untuk memberikan bangku kosong). Hanya saja menurut saya, ibu hamil, manula, balita, dan teman-teman berkebutuhan khusus di masyarakat manapun selalu memiliki tempat terutama (maaf para pemuda tampan, bukannya kami tidak cinta). Tanpa ingin merasa diistimewakan, bukannya tempat duduk itu harusnya tidak perlu diminta? Bukankah nurani harusnya sudah otomatis berjalan tanpa diminta?

Tapi alhamdulillah, waktu itu saya dipenuhi banyak empati, simpati dan kasih sayang dari sekitar yang perduli pada ibu hamil, bahkan kenek angkot pun bisa urun suara nyuruh supirnya sabar untuk urusan bumil yang naik angkotnya ngeja, alias nggak bisa langsung menclok gitu aja. Juga karyawan satu-satunya di lapak sato yang heboh protektif dan ngeri setiap bolak-balik saya menolak bantuannya untuk membawakan tumpukan piring kotor ke tempat cuci, “Mbak, bisa jantungan saya” katanya, saya cuma bisa balas “Shhh, berisik, jangan bilang-bilang ibu ya” hahaha. Mereka bisa dibilang bukan saudara sedarah, tapi mereka mampu menunjukkan sesuatu yang baik dan harus untuk dilakukan. Itu yang paling penting.

Saya amat beruntung saat itu, amat bersyukur, dan saya anggap itu sebagai rejekinya anak saya. Rasa syukur itu yang coba saya lanjutkan pada anak saya, dengan sedari sekarang belajar memahami tepo seliro, tenggang rasa, bergotong royong, yang juga pernah diajarkan saya sejak entah kapan dan oleh siapa saja, yang ternyata membekas. Dari satu untuk satu orang lainnya, dari orang lainnya untuk orang lainnya lagi, begitu seterusnya hingga seluruhnya.

Dear bu ibu, dear dek adek, dear bumil, dear eneng dan embak yang di pojokan sana, dear…

SESEKALI DALAM KEHIDUPAN

Sesekali kesedihan menyelusup dalam kehidupan, agar kita diingatkan bahwa kehidupan tidak sekedar “DOR” dan jadi seperti balon hijau yang kau genggam erat-erat. Dan bahwa hidup berjalan berdampingan dengan kematian, dimana dalam pori-porinya ada tertawa anak yang kau abadikan dalam bingkai foto atau DSLR barumu yang mutakhir, ada senda gurau pertama sebelum lamaran tiba dan tahu-tahu kau adalah ibu yang sedang melahirkan anakmu, atau kakek yang sedang menggandeng tangan cucumu. Dan bahwa kematian adalah fakta dari hidup, bahwa hidup memiliki tepian, tempat dimana istirahat bisa berupa macam-macam, mungkin hari ini kau sulit bernafas lalu tak terasa kau ada di sebuah podium dengan medali emas bergelantungan di lehermu. Hidup dan kematian adalah sebuah kesempatan, untuk kedatangan dan kepergian, untuk merasakan dan menantikan, untuk sebuah dan banyak harapan.

Sesekali kesedihan menyelusup dalam kehidupan, agar kita diingatkan.

-muntahkata